Tag archives for:

Anak

AgendaBerita

#NYALA 1000 LILIN UNTUK PARA KORBAN

Posted on May 24, 2016 at 12:36 pm by / 0

Keprihatinan pada Kekerasan Perempuan dan Anak

Selasa, 24 Mei 2016

            Kasus pemerkosaan disertai pembunuhan yang dialami oleh Yuyun seorang remaja perempuan berusia 14 tahun di Bengkulu masih hangat diperbincangkan. Aktifis, akademisi dan masyarakat umum ramai memperbincangkan dan menyerukan solidaritas untuk korban. Kekejian yang dilakukan oleh pelaku membuat semua kalangan geram, marah sekaligus prihatin. Korban diperkosa oleh 14 orang pelaku yang masih berusia remaja dan berstatus sebagai pelajar, beberapa diantaranya putus sekolah.  Pelaku melakukan pesta miras bersama, disebuah kebun karet. Nasib naas menimpa Yuyun, saat pulang sekolah dan melintasi jalan tersebut Yuyun disekap dan diperkosa bergiliran dan mengalami kekerasan hingga meninggal.

            Pelaku yang dibawah pengaruh minuman keras diduga menjadi penyebab, namun tidak sepenuhnya hal ini terjadi karena minuman keras. Pendidikan menjadi penyebab juga dalam kasus tersebut, salah satunya pendidikan kesehatan reproduksi. Budaya patriarki yang masih sangat kental bahkan sudah mengakar ke remaja laki-laki, bahwa laki-laki kuat dan perempuan lemah. Pemahaman ini yang menyebabkan kasus kekerasan terhadap perempuan banyak terjadi, laki-laki ingin menunjukkan kekuasaannya kepada perempuan. Kekerasan tersebut tidak hanya terjadi pada perempuan dewasa, pun terjadi pada anak-anak.Nyala lilin

Kasus kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dari 2011 sampai 2014 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus. Berdasarkan tempat terjadi kekerasan, data KPAI menunjukkan kekerasan terhadap anak terjadi di keluarga, sekolah dan masyarakat. Hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 propinsi menunjukkan bahwa 91 persen anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga, 87.6 persen di lingkungan sekolah dan 17.9 persen di lingkungan masyarakat.

data dari BP3AKB Provinsi Jawa Tengah pada 2014-2015, tercatat bahwa korban kekerasan berbasis gender dan anak di Jawa Tengah menunjukkan pada kategori “harus waspada” karena menunjukkan  yang cukup tinggi baik secara kuantitas dan kualitas. Angka kekerasan pada tahun 2014 menunjukkan jumlah korban 2.689 orang yang meliputi dewasa dan anak-anak. Sedangkan data kekerasan pada semester I tahun 2015 sejumlah 1.965 kasus. Sedangkan Jumlah Total tahun 2015 sebanyak 2630 kasus. Dari keseluruhan kasus terbanyak adalah kasus kekerasan Seksual, yakni sebanyak 846 kasus, kemudian kasus Kekerasan Fisik sebanyak 823 kasus, dan berikutnya adalah kasus kekerasan Psikis yakni sebanyak. 768 kasus.

            Khusus untuk kasus kekerasan seksual, pada tahun 2012 terdapat korban 7 orang anak laki-laki dan 450 orang anak perempuan, untuk tahun 2013 terdapat korban 16 orang anak laki-laki dan 409 orang anak perempuan, sedangkan tahun 2014 terdapat korban 53 orang anak laki-laki dan 556 orang anak perempuan. Artinya setiap hari di Jawa Tengah terdapat 2 orang anak menjadi korban kekerasan seksual.


1000 Lilin untuk Para Korban

           
TuntutanJaringan LSM, komunitas seni, kelompok masyarakat dan organisasi kemahasiswaan di Kota Semarang turut bereaksi terhadap kasus demi kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak. Aksi solidaritas yang ditujukan kepada korban dan keluarga, aksi solidaritas dilakukan sebagai upaya membangkitkan kepedulian masyarakat umum. Tugu muda sebagai ruang terbuka public yang menjadi icon Kota Semarang, dipilih menjadi lokasi aksi solidaritas tersebut.

          Aksi nyala seribu lilin yang melibatkan pegiat seni memberikan suasana berbeda. Membawakan naskah cerita mengenai kematian aktivis buruh Marsinah, seniman teater Semarang membangkitkan emosi seluruh orang yang ikut berpartisipasi. Dilanjutkan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Semarang, hadirin dengan khusyuk ikut mendoakan para korban dan berharap tidak ada kekerasan lagi yang terjadi.

         Rangkaian acara dalam aksi untuk para korban menyampaikan tuntutan kepada pemerintah di tingkat pusat, daerah maupun kota. Pemerintah pusat didesak untuk segera mengesahkan UU penghapusan kekerasan yang berpihak kepada korban. Selain itu, pemerintah juga harus mengkaji hukuman kebiri yang dituangkan dalam Perpu no.1 tahun 2016 tentang perlindungan anak karena hal tersebut melanggar hak asasi dan hak kesehatan reproduksi. Rehabilitasi komprehensif kepada korban dan upaya mewujudkan sekolah yang ramah terhadap anak harus dilakukan oleh pemerintah daerah dan pemerintah kota/kabupaten. Rehabilitasi korban yang komprehensif akan membantu korban untuk bangkit dan kembali ke kehidupan sosial yang baik. Sekolah merupakan kunci setelah keluarga, mewujudkan sekolah ramah anak menjadi upaya strategis untuk menangani, mendampingi dan mencegah terjadinya kasus kekerasan terhadap anak.** [Dwi Yunanto]

BeritaKarir

Disabilitas Dan Kesehatan Reproduksi

Posted on May 12, 2016 at 12:49 pm by / 0

Jembawan (12/5). Siang itu di aula PKBI Jateng, suasana santai dan penuh canda tapi sangat sarat dengan makna. Kali ini PKBI Jawa Tengah mengundang Pengurus Pertuni (Persatuan tuna netra Indonesia) Jawa Tengah untuk berbagi pengalamannya sebagai penyandang disabilitas dalam sebuah acara yang bertajuk Share and Care: Disabilitas dan Kesehatan Reproduksi.

Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta yang terdiri dari karyawan, relawan dan anggota peer educator ini diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada peserta agar mereka mengerti apa saja yang dialami para penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, melalui sharing ini, karyawan dan relawan PKBI Jawa Tengah lebih bisa menghargai, memahami, dan mengerti kebutuhan mereka. Sehingga tidak menjadi pelaku diskriminasi.

Terdapat lima pengurus Pertuni yang hadir dan berbagi pada kesempatan tersebut yaitu Pak Eddy (Ketua Pertuni), Pak Suryandaru, Mas Indra, Mas Ari dan Mbak Eka Pratiwi. Kebetulan kelimanya mengalami disabilitas ketika sudah menginjak remaja karena berbagai latar belakang seperti kecelakaan, salah obat maupun mengalami low vision sejak kecil. Hebatnya, kelimanya telah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Bahkan ada yang lulus dengan predikat cumlaude. Ada pula yang telah pergi ke berbagai benua baik mewakili Pertuni maupun kegiatan lainnya. Tentunya capaian tersebut bukanlah hal yang dengan mudah begitu saja mereka peroleh, tetapi dengan perjuangan yang panjang.

Pak Eddy, Ketua Pertuni, bercerita bahwa tahun 1998 di usia 18 tahun, dua hari menjelang ujian masuk perguruan tinggi dirinya mengalami kecelakaan sepeda motor yang parah, hingga otaknya harus dioperasi. Dampaknya dia harus mengalami kebutaan di kedua matanya, telinga kanannya tidak dapat mendengar dan hidungnya tidak bisa membaui. Dia sangat terpukul waktu itu, namun berkat dukungan keluarganya yang begitu besar maka dia berusaha bangkit. Bukan hal yang mudah, namun akhirnya dia bersyukur karena dua tahun kemudian diterima di Fakultas Hukum Undip Semarang.

Proses kuliah mengandalkan rekaman dan karena waktu itu belum ada komputer, maka ujiannya pun menggunakan mesin tik, jadi kemana-mana dia menenteng mesin tik. Enam tahun berhasil menyelesaikan studi dan saat ini bekerja sebagai telemarketing di sebuah lembaga pengembangan SDM. Bersyukur pula dia dikaruniai seorang istri dan tiga orang anak yang semuanya awas. Demikian sharingnya sambil memberikan semangat kepada para peserta.

Sedangkan Pak Suryandaru yang pada usia dua tahun mengalami iritasi mata, oleh dokter diberi obat yang dampaknya sangat buruk bagi penglihatannya, hingga pada usia belasan akhirnya tidak dapat melihat sama sekali. Dia menuturkan bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menciptakan umatnya. Bahwa kendala tidak dapat melihat bukanlah cacat yang sering di identikkan sebagai sesuatu yang buruk, tetapi lebih tepatnya mengalami mal fungsi.

pertuniNah, disabilitas, adalah sebuah kondisi dimana seseorang mengalami mal fungsi, sehingga dia mengalami kesulitan mengakses lingkungan di masyarakat yang menganut asas kesetaraan. Hal ini tidak hanya dialami oleh tunanetra saja tetapi juga mereka yang tak mampu bicara, tidak mampu berdiri, berjalan, mendengar, maupun lainnya. Bila suatu saat hambatan akses sudah tidak ada lagi maka disabilitas itu tidak ada. Oleh karenanya saat ini yang dibutukan adalah kemudahan akses, tuturnya.

Dicontohkan pula berbagai hambatan yang dialaminya sebagai penyandang disabilitas diantaranya tidak diperbolehkan memiliki rekening bank dengan alasan tanda tangannya tidak konsisten. Setiap kali naik pesawat, harus menandatangani surat keterangan sakit, sehingga konsekuensinya bila terjadi kecelakaan maka tidak akan diberi ganti rugi dengan asumsi bahwa penumpang tersebut memang tidak mampu menyelamatkan diri. Pernah pula ada anggota Pertuni yang batal diterima sebagai PNS karena tunanetra. Batasan usia penerimaan CPNS juga diskriminasi bagi penyandang tunanetra, karena pada umumnya tuna netra membutuhkan waktu belajar yang lebih lama daripada mereka yang awas.

Terkait layanan kesehatan, Pak Daru juga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan ketika periksa gigi. Dokter yang melayani nampaknya bingung dan kikuk sehingga isntruksi yang diberikan kurang jelas, wal hasil Pak Daru menabrak beberapa peralatan di ruang periksa. Belum lagi ketika berbicara jalan dan transportasi. “Di beberapa jalan trotoar di Kota Semarang sudah mulai dipasang guiding pad, tetapi apa yang terjadi, ada pula guiding pad yang diujungnya ada pohonnya, terpotong lintasan mobil, ada pula yang memang sengaja di pasang melingkari pohon untuk hiasan” paparnya sambil tertawa.

Acara yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam ini diikuti oleh peserta dengan antusias, terlihat dari jumlah penanya yang lumayan banyak. Tentunya semua pertanyaan dijawab dengan santai dan mengena oleh kawan-kawan Pertuni.

Penandatanganan MoU

            Pada akhir kegiatan, dilakukan penandatanganan MoU antara PKBI Jawa Tengah dengan PD Pertuni Jawa Tengah. MoU yang berlaku hingga dua tahun kedepan, merupakan penanda bahwa kedua belah pihak mempunyai komitmen untuk bersama-sama saling mendukung dalam upaya pemenuhan hak kesehatan reproduksi kepada semua orang, termasuk mereka yang mengalami disabilitas.

            Seperti yang pernah dimuat pada Jembawan 8 edisi sebelumnya, bahwa para anggota pertuni saat ini masih minim akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi dan seksual. Sementara mereka sendiri mengakui bahwa mereka sangat membutuhkan informasi tersebut. Oleh karenanya, mereka berupaya untuk melakukan pemenuhan hak-hak anggotanya. Beberapa kegiatan telah mereka lakukan diantaranya FGD kesehatan reproduksi, sosialisasi dan pelatihan yang difasilitasi oleh ICOM dan PKBI Jateng. Kedepan kegiatan-kegiatan untuk pemberian informasi akan dilakukan bersama PKBI Jawa Tengah. Sukses untuk Pertuni Jawa Tengah.** [lisa]

BeritaPojok Kespro

Pencegahan Kekerasan Berbasis IT

Posted on December 6, 2015 at 4:57 pm by / 0

Belakangan ini isu kekerasan anak sedang mendapatkan perhatian yang cukup besar dari Pemerintah, swasta maupun dari masyarakat. Selain dari meningkatnya jumlah kasus kekerasan, hal tersebut juga disebabkan karena expose media terhadap kasus kematian Angeline yang dianiaya oleh Ibu angkatnya. Berbagai upaya pencegahan kekerasan terhadap anak mulai dirancang. Salah satu program yang dapat di rancang adalah upaya penyebaran informasi atau edukasi pencegahan kekerasan terhadap anak melalui media informasi dan teknologi (IT).
Kejahatan Berbasis ITKelompok jurnalis memberikan dukungan terhadap upaya pencegahan Kekerasan terhadap Anak dengan memberikan alternatif media-media yang dapat digunankan untuk promosi. Media yang dapat dimanfaatkan dapat berupa media cetak maupun media online. Selama ini surat kabar banyak mengulas isu-isu, berita, maupun opini publik mengenai topik kekerasan terhadap anak. Kekuatan dari media jurnalistik baik cetak maupun online adalah masih cukup banyak peminat atau pembacanya sehingga masih ada segmen pasar yang bisa dijadikan sasaran. Untuk saat ini segmentasi untuk media cetak adalah masyarakat secara umum, sedangkan remaja dan anak-anak lebih menyukai media berita online.
Kelompok media radio memiliki sasaran yang lebih berfariasi mulai dari orang tua, remaja, dan anak-anak. Mereka mempunya beberapa program khusus yang disesuaikan dengan sasarannya. Untuk sasaran orang tua radio elshinta memiliki program news and talk, talkhow, dan diskusi interaktif. Berita-berita tersebut sangat dimungkinkan berisi tentang info kesehatan, kekerasan, pelecehan, parenting, dan info-info lainnya yang berhubungan dengan kekerasan terhadap anak, tergantung dengan isu yang sedang berkembang saat itu. Kelebihan dari media radio adalah langsung pada sasaran sehingga pesan lebih cepat tersampaikan serta berita yang disajikan juga relatif up to date.
Provider selular lebih menyasar pada remaja karena remaja dianggap sebagai pangsa pasar yang cukup potensial sehingga jika ada program pencegahan Kekerasan terhadap Anak juga diarahkan ke sasaran remaja. Jenis media yang dapat dimanfaatkan adalah Digital Media dan Sosial Media termasuk Account Resmi Indosat (Twitter, dan FB). Strategi yang dapat dijalanakan mulai dari pelibatan public figure (artis atau endorser) yang usia remaja sehingga remaja terkait dengan informasi yang disebarkan. Pelibatan follower dalam digital media sehingga mereka terlibat secara aktif di kegiatan-kegiatan pencegahan Kekerasan terhadap Anak yang respondennya melibatkan anak. Pelibatan provider di beberapa event diantaranya Tarhib (jalan santai, senam bersama, sepeda santai, jalan bersama), CFD/Car Free Day, atau kgiatan ngabuburit. Pelibatan duta provider yang dapat menggerakan teman-teman remaja disetiap sekolah. Kemudian diperkuat dengan tanda tangan dari pejabat Pemda setempat yang berisi mohon dukungan indosat terkait kegiatan pencegahan KtA ini (Eg: Walikota ataupun Gubernur).
Kelebihan media selular diantaranya adalah jangkauan responden luas, biaya lebih murah, accesible, warm nya lebih bagus karena lebih masuk kepada responden, spreadingnya lebih cepat, luas dan murah. Untuk kekurangan media selular diantaranya Jika ada isi koment yang jelek itupun bisa cepat tersebar, untuk mengatasinya melalui twitter dan FB dilakukan sensor dari pihak vendor indosat terkait dengan content negatif yang mungkin muncul dari komen yang masuk.**

**Efa Nugroho, Relawan PKBI Jawa Tengah, dosen Fakultas Kesehatan dan Olah Raga Unnes.

Pojok Kespro

World Breastfeeding Week

Posted on August 6, 2015 at 1:35 pm by / 0

World Breastfeeding Week (WBW) atau Indonesia disebut dengan Pekan ASI Sedunia (PAS) yang dirayakan setiap tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya. Tema yang diusung seluruh negara setiap tahunnya sama, dan untuk tahun 2015 ini adalah “Menyusui dan Bekerja: Mari Kita Sukseskan!

Tema ini menjadi pilihan untuk tahun 2015 ini karena saat ini banyak ibu menyusui yang melakukan peran ganda, sebagai ibu menyusui dan sebagai wanita karir yang dituntut untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan menjalani peran ganda ini, membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam hal pekerjaan. Sebaiknya setiap perusahaan hendaknya bisa memperhatikan tiga hal, yaitu Waktu, Ruang/Jarak, dan dukungan.

Waktu berkaitan dengan adanya cuti ketika akan melahirkan dan paska melahirkan, tetapi tetap dibayar penuh selama masa cuti berlangsung. Atau diberi kesempatan beristirahat untuk menyusui, atau adanya pengurangan jam kerja setiap harinya untuk menyusui, dengan tidak mengurangi haknya pada tiap bulannya.

Ruang/Jarak berkaitan dengan diberikannya fasilitas atau ruang pribadi/tertutup untuk memerah dan menyimpan ASI. Jika memungkinkan disediakan tempat perawatan bayi dekat dengan tempat kerja sehingga ibu bisa bersama dengan bayinya.

Perempuan juga memerlukan dukungan sepenuhnya dari anggota keluarga, masyarakat, pemberi kerja, rekan kerja, dan atasan, dalam bentuk perilaku positif terhadap menyusui dan pengertian terhadap situasi pekerjaan

Mengapa ASI menjadi penting? Karena ASI merupakan faktor penunjang kecerdasan si bayi. Memang tidak mudah menjalani ASI secara eksklusif, karena artinya seorang ibu harus memberikan ASI selama 6 bulan tanpa diberikan asupan lainnya. Seringkali kesalahan yang terjadi adalah setelah masa ASI eksklusif ini atau si bayi sudah diberi makanan lain selain ASI karena si ibu tidak memberikan ASI lagi. Padahal menurut standar kesehatan dunia WHO, bayi sebaiknya di sapih setelah 2 tahun usianya. Hal ini yang menjadi tantangan bagi ibu menyusui yang berperan sebagai wanita karir. Tak jarang pula mereka juga mengkombinasikan antara ASI dengan susu formula. Mengapa ASI lebih baik dari susu formula?Karena banyak sekali kandungan susu formula yang tidak terdapat pada ASI, ASI lebih memiliki fungsi menyeluruh pada bayi sedangkan susu formula hanya memacu sebagian saja. Jadi, sudah sangat jelas bahwa memberikan ASI eksklusif adalah hal yang tidak bisa di gantikan.

Berdasarkan penelitian WHO (2000) di enam negara berkembang, resiko kematian bayi antara 9-12 bulan meningkat 40% jika bayi tersebut tidak disusui. Untuk bayi berusia di bawah 2 bulan, angka kematian ini meningkat menjadi 48%. Salah satu upaya untuk mengurangi AKB yaitu dengan pemberian ASI khususnya ASI Ekslusif 6 bulan dan tetap diberi ASI sampai 11 bulan saja dengan MP-ASI pada usia 6 bulan dapat menurunkan kematian balita sebanyak 13% (Roesli, 2008).

Nah, masih ragu untuk mendukung ibu menyusui dalam memberikan ASI secara eksklusif?

For Mom: Enjoy your journey as a mom with breastfeeding moment!

AgendaKegiatanPengumuman

#500KadoUntukMereka

Posted on August 6, 2015 at 9:44 am by / 0

Hari Ulang Tahun, identik dengan pemberian kado untuk menunjukan rasa cinta dan kasih serta untuk berbagi kebahagiaan. Sebuah tanda syukur atas lahirnya seseorang kedunia. Momen Ulang Tahun seringkali terlupa karna beberapa diantara mereka terlalu sibuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau pula karna beberapa diantaranya tidak mengetahui kapan hari lahirnya.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, di 23 Juli 2015 serta Ulang tahun yang ke5 dari Rumah Pintar Bangjo kami mengajak seluruh masyarakat untuk saling berbagi dalam #500KadoUntukMereka . 500 kado nantinya akan diberikan kepada anak-anak jalanan, anak-anak marginal, serta anak berkebutuhan khusus.

Ketentuan Kado :

  1. Kado berupa barang baru, minimal seharga Rp. 20.000,-
  2. Sudah dibungkus dengan kertas kado, dan diberi keterangan isi kado tersebut
  3. Kado dikirim langsung ke Rumah Pintar BangJo PKBI Jawa Tengah, di Kp. Pungkuran No. 403 Rt.03 Rw. 02, Kel. Kaumann, atau ke Kantor PKBI Daerah Jawa Tengah, Jl. Jembawan Raya No 8 – 12 Semarang
  4. Jika terkumpul lebih dari 10 kado, hubungi Irwan, 085742237528 atau Vivi, 085640054490, untuk penjemputan kado.
  5. Jika tidak ada waktu untuk membeli kado, bisa salurkan donasimu ke 304301020519535 Bank BRI atas nama Vivi Maryati.

Kado ini akan diberikan sesuai dengan kelompok usianya, kategori kado terbagi menjadi:

1. Anak usia dini (< 5 tahun)

Kado berupa mainan edukasi, alat mewarnai gambar

2. Anak usia sekolah ( 7 – 12 tahun)

Kado berupa mainan edukasi (kartu belajar,dll), atau perangkat sekolah seperti buku tulis, alat tulis, tempat pensil, dll.

3. Anak usia remaja (13 – 18 tahun)

Kado berupa kaos / baju baru dengan ukuran M, L, atau XL

Because sharing is caring!

Yuk segera, kami tunggu sampai 11 Agustus 2015.

close
Hubungi kami

Kami tidak aktif sekarang. Tapi Anda dapat mengirim email kepada kami dan segara mungkin untuk dibalas.

Questions, issues or concerns? I'd love to help you!

Tekan enter untuk mengobrol