Tag archives for:

HIV-AIDS

BeritaHIV/AIDSKegiatan

Hari AIDS Sedunia (HAS) : Senam Sehat, Kampanye HIV AIDS untuk Menghapus Stigma dan Diskriminasi bagi ODHA

Posted on December 1, 2015 at 7:01 pm by / 0

 Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan oleh PKBI Daerah Jawa Tengah. Berperan sebagai Sub Recipient (SR) dalam pelaksanaan proyek HIV dari Global Fund (GF), PKBI memiliki 8 Sub-Sub Recipient (SSR) di 8 Kota/Kab dengan LSM Lokal sebagai mitra kerja. Peringatan Hari AIDS Sedunia menjadi kegiatan bagi seluruh aktifis HIV untuk melakukan evaluasi pelaksanaan penanggulangan HIV, sekaligus membuka mata masyarakat untuk peduli terhadap persoalan HIV yang ada di sekitarnya.

Fokus pada populasi kunci sejak awal proyek ini menjadi tantangan ketika proyek akan berakhir, pada satu sisi masyarakat masih banyak yang belum memahami informasi HIV secara komprehensif. Pegiat HIV yang ada di Kota/Kab khususnya SSR PKBI Daerah Jawa Tengah, melakukan strategi pendekatan masyarakat melalui wadah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (PIKM) dengan menempatkan masyarakat sebagai Subjek dalam upaya penanggulangan HIV berbasis Desa/Kelurahan. Keyakinan PKBI dan mitra kerja bahwa kekuatan nyata masyarakat masih sangat kental di Desa/Kelurahan, nilai-nilai luhur Indonesia seperti gotong-royong, solidaritas, toleransi masih dipegang teguh. Potensi inilah yang menjadi modal untuk menyelesaikan persoalan HIV. Peringatan HAS 2015 dengan tema nasional “Hidup Sehat Awal Pencegahan HIV-AIDS” melibatkan masyarakat sebagai perencana sekaligus pelaksana kegiatan. 3 (tiga) Kota/Kab SSR PKBI melakukan kegiatan serempak, Kota Surakarta, Kab. Tegal dan Kab. Batang.

Kota Surakarta

Memilih area CFD jalan Slamet Riyadi Surakarta sebagai titik central kegiatan, SSR Kota Surakarta melaksanakan beberapa kegiatan. Senam bersama, dialog interaktif (live) dengan Solo radio dan tes HIV. Kegiatan bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Surakarta dan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (DISHUBKOMINFO) Kota Surakarta, Dinas Kesehatan Kota Surakarta dan jajaran aktifis HIV Kota Surakarta. Kegiatan senam bersama yang melibatkan komunitas ODHA yang tergabung dalam KDS Solo Plus memiliki misi untuk mengikis stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.  SurakataMendekatkan ODHA kepada masyarakat dan menunjukkan bahwa ODHA mampu untuk tetap bekerja dan beraktifitas layaknya orang yang sehat, memiliki penampilan yang sama (tidak menakutkan), dengan demikian masyarakat tidak takut untuk melakukan kontak social dengan ODHA. Tes HIV yang dilakukan di area CFD bekerjasama dengan Puskesmas Gajahan dan Manahan menjadi tes HIV bersama yang dilakukan ditengah keramaian CFD. Antusiasme warga cukup menggembirakan, 30 menit tes HIV dibuka sudah melayani 25 warga Surakarta yang ingin mengetahui status HIV mereka. Harapan besar muncul dalam upaya penanggulangan HIV bahwa tes HIV sama dengan tes kesehatan lainnya seperti tes gula darah dan kolesterol, dengan demikian stigma terhadap tes HIV akan hilang dan masyarakat tidak ragu untuk melakukan tes HIV. Pegiat HIV di Surakarta memanfaatkan momentum HAS ini untuk menyuarakan aspirasi, melahirkan sebuah pernyataan sikap bersama yang berisi :

PERNYATAAN SIKAP

(KEPADA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA)

DARI PENGGIAT PEDULI HIV

KOTA SURAKARTA

  1. MENDORONG PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PROVINSI DAN KOTA/KABUPATEN), UNTUK TETAP KONSISTEN MEMBERI PERHATIAN TERHADAP PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN
  1. MENDORONG PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PROVINSI DAN KOTA/KABUPATEN), MENYEDIAKAN PELAYANAN KESEHATAN YANG BERKUALITAS TANPA DISKRIMINASI PADA ODHA.
  1. MENDORONG PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PROVINSI DAN KOTA/KABUPATEN, MEMBERIKAN DUKUNGAN KEBIJAKAN DAN ANGGARAN BAGI ORGANISASI ORANG DENGAN HIV-AIDS, LSM PEDULI AIDS DAN WARGA PEDULI AIDS, DALAM AKSI PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN AIDS.
  1. MENDORONG PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA, (PROVINSI DAN KOTA/KABUPATEN, UNTUK MEMBERI PERHATIAN YANG MEMADAI TERHADAP PROGRAM  MITIGASI DAMPAK PADA  ORANG DENGAN HIV DAN AIDS.

Kab. Tegal

Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2015 di Kabupaten Tegal  dengan tema lokal “saatnya bertindak untuk berperilaku sehat” oleh PKBI Kabupaten Tegal, pelaksanaan kegiatan ini sepenuhnya didukung dan dilaksanakan oleh para kader-kader tangguh dari desa Harjosari Kidul yaitu melalui wadah Pusat informasi kesehatan masyarakat (PIKM) Cahaya Mulia. tegalBertempat  di Shelter Trasa Slawi kegiatan Senam bersama berlangsung dengan meriah. Seluruh kader PIKM Kab. Tegal turut memeriahkan kegiatan tersebut, tidak kurang 450 orang perwakilan dari Desa/Kelurahan. Berbagai macam doorprize disediakan oleh panitia yang berasal dari sponsor semakin menarik minat masyarakat sekitar. Misi yang sama menjadi target kader PIKM dan SSR Kab. Tegal untuk mengikis stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Melibatkan komunitas ODHA Kab. Tegal yang tergabung dalam wadah KDS Jingga, menunjukkan bahwa ODHA mampu menjadi penggerak dalam kegiatan-kegiatan social kemasyarakatan dan tetap berdaya.

Kab. Batang

BatangKegiatan Hari Aids Sedunia 2015 di Kabupaten Batang diselenggarakan oleh SSR Kab. Batang (Forum Komunikasi Peduli Batang) bekerja sama dengan Forum generasi Peduli AIDS (FGPA), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kab. batang dan Dishubkominfo Kabupaten Batang. Kegiatan tersebut bertempat di area pendopo dan alun-alun kabupaten Batang dengan beberapa rangkaian kegiatan antara lain Dance 4 Life, long march dan orasi, testimoni odha, tes VCT dan pentas seni. Tidak kurang 600 Orang terlibat dalam kegiatan tersebut yang terdiri dari pelajar, SKPD, tokoh masyarakat dan komunitas-komunitas yang ada di Kabupaten Batang.

Dimulai dari pukul 07.00 WIB dengan senam bersama dengan ibu Yoyok (Isteri Bupati Batang) yang sebelumnya telah memberikan sambutan dan membuka secara resmi kegiatan HAS 2015 dan diteruskan dengan sambutan Bapak H Mudhofir dari KPA kabupaten Batang. Dilanjutkan dengan pelepasan jalan sehat/ longmarch dan orasi dari para siswa siswi. Batang2Selama long march para peserta membagikan leaflet yang berisi informasi tentang HIV AIDS. Selain itu ada testimony dari ODHA yang telah open status, menyampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi kepada ODHA. Kepedulian keluarga dan masyarakat menjadi factor yang sangat diperlukan bagi ODHA untuk tetap semangat menjalani hidup dan terus berkarya. Sembari mendengarkan testimoni, para peserta dipersilahkan untuk satu persatu melakukan tes VCT yang disediakan oleh layanan dari RS QIM. Acara dilanjutkan dengan pentas seni musik, teatrikal, dan pembacaan puisi dari para siswa siswi kreatif dari SMA/SMK/MA se-Kabupaten Batang. **

**Dwi Yunanto Hermawan, Project Manager HIV – PKBI Jawa Tengah

HIV/AIDSPojok Kespro

Siapa yang Lebih Berpotensi Menularkan HIV ?

Posted on December 25, 2012 at 1:11 pm by / 0

Pada Juni 2006, persentase kasus AIDS yang disebabkan oleh hubungan heteroseksual adalah 38,5%, meningkat pada Juni 2011 menjadi 76,3%. Bandingkan dengan  kasus AIDS yang disebabkan oleh penggunaan napza suntik (penasun) pada kurun waktu yang sama, menurun persentasenya dari 54,42% menjadi 16,3%.

berpotensi HIV

Peningkatan kasus AIDS karena hubungan heteroseksual ini berdampak pada meningkatnya jumlah perempuan dan bayi yang dilaporkan sebagai kasus AIDS baru. Pada Juni 2006, persentase kasus AIDS baru pada perempuan adalah 16,9%, meningkat menjadi 35,1% pada 2011. Sementara persentase penularan ibu ke bayi (perinatal) meningkat dari 2,16% pada 2006 menjadi 4,7% pada 2011.

(Persentase Kumulatif Kasus AIDS Triwulan Kedua 2006 vs 2011 Berdasarkan Cara Penularan dan Kasus pada Perempuan)

berpotensi HIV2

Hal yang lebih mengejutkan adalah dari 5210 kasus kumulatif AIDS pada perempuan pada 2010, sebanyak 41,4% adalah ibu rumah tangga. Sementara dari perempuan pekerja seks, yang selama ini seringkali dicap sebagai penyebar HIV, ‘hanya’ sebanyak 8,7%.

(Kumulatif AIDS pada Perempuan Total  5210 kasus Berdasarkan Jenis Pekerjaan s/d 2010)

Kementerian Kesehatan RI memperkirakan 3,1 juta laki-laki dewasa pernah menjadi pelanggan pekerja seks. Sementara itu, diperkirakan lebih kurang 1,6 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang terinfeksi HIV dan jumlah perempuan pekerja seks lebih kurang 320.000 jiwa.

berpotensi HIV3

Dari perkiraan angka ini saja, kita bisa melihat bagaimana laki-laki memiliki potensi lebih besar dalam penularan HIV. Belum lagi jika kita tambahkan bagaimana posisi tawar perempuan, baik sebagai pekerja seks maupun bukan, yang masih rendah dan bagaimana kondisi biologis tubuh perempuan yang lebih rentan tertular HIV, kasus HIV & AIDS pada perempuan bisa jadi akan terus meningkat yang juga akan berdampak pada peningkatan kasus pada bayi dan anak.

(Sumber data: Rangkuman Eksekutif Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia 2006-2001. KPAN 2011. Laporan KPA Nasional 2010)

– Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia –

HIV/AIDS

Keprihatinan Ketika “Perhatian” Itu Tak Lagi Ada

Posted on December 15, 2012 at 12:29 pm by / 0

“Kok sekarang begini ya mbak jadinya ?”….. “Kenapa tidak ada lagi yang perhatian sama saya ?”
Kata-kata tersebut sekarang sering kali dikeluhkan oleh seorang nenek setelah tidak lagi mengasuh cucunya yang telah ditinggal oleh kedua orang tuanya.

Avi. Itulah nama cucunya. Usianya baru 5 tahun ketika hak asuhnya diambil oleh nenek Diah yang bertempat tinggal di Semarang Selatan. Ketika itu kondisi Avi cukup memprihatinkan karena sedang sakit-sakitan dan tidak mendapat perawatan yang memadai saat berada dalam pengasuhan nenek dari pihak ibu Avi. Avi diduga sakit pernafasan dan pencernaan. Setelah menjalani rawat inap di salah satu RS di Semarang, Avi didiagnosa mengidap virus HIV-AIDS. Semenjak itu perhatian dengan beragam bentuk termasuk donasi berupa uang mengalir cukup deras ke pundi nenek Diah.
Avi merupakan salah satu dari sekian ratus anak yang terinfeksi HIV-AIDS. Gadis kecil yang senantiasa tergolek lemah di akhir kehidupannya. Avi menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya pada usia 10 tahun, 10 Desember 2010.

Avi terlahir dari orang tua yang hidup di desa. Ibunya hanyalah seorang petani yang menggarap lahan keluarga bersama sang kakek dan nenek. Sedangkan ayah Avi adalah pekerja swasta. Masa kecil Avi dan 2 orang kakak lelakinya sangatlah bahagia. Meski hidup di desa, hampir setiap kebutuhan mereka bisa terpenuhi.

Hingga pada suatu saat, di tahun 2004, ayah Avi meninggal, dengan keluhan di bagian dada. Dan 1 tahun kemudian sang ibupun menyusul pada tahun 2005 dengan keluhan yang hampir sama yaitu sesak nafas. Setelah kepergian 2 orang tua, Avi dan kedua kakaknya diasuh oleh nenek dari sang ibu. Dan karena ingin memiliki andil mengasuh cucu, maka nenek Diah pun meluncur ke tempat tinggal Avi untuk mengajak tinggal bersama. Dimana waktu nenek Diah kesana Avi tengah mengalami sakit yang ternyata sudah cukup lama.

Sesampainya di Semarang, Avi langsung diperiksakan oleh nenek Diah dengan dibantu oleh Ibu RT setempat yang membantu mencarikan Surat Keringanan pengobatan serta perawatan, mengingat nenek Diah termasuk kurang mampu. Setelah menjalani serangkaian pemerikasaan, dari pertama Avi di diagnosa memiliki sakit Flek Paru ternyata Avi juga di vonis terinfeksi HIV-AIDS.

Keluarga hanya bisa pasrah terhadap apa yang dialami oleh Avi. Meskipun demikian tidak ada kata pantang menyerah untuk mencari obat demi menyembuhkan Avi. Berkat pertolongan Ibu RT setempat yang membantu mencari informasi mengenai HIV-AIDS dengan menghubungi Asa PKBI Jateng serta meminta kesediaan Asa untuk menjadi pendamping Avi pula akhirnya keluarga tersebut mengerti mengenai apa itu HIV. Bagaimana cara penularan, melalui media apa saja yang bisa menularkan virus itu serta bagaimana pencegahannya. Meski demikian, keluarga terutama nenek Diah, masih tidak habis pikir dari mana Avi memperoleh virus HIV tersebut. Melalui berbagai diskusi dengan para dokter yang menangani khususnya dengan Dr. Hapsari, SpA, nenek Diah mulai mengerti dari mana virus itu berasal.

Cerita di atas menggambarkan kisah dari seorang anak yang terinfeksi virus HIV. Avi di ketahui terinfeksi melalui pemeriksaan darah ketika melakukan rawat inap di Rumah Sakit pemerintah di Kota Semarang dengan keluhan sesak nafas. Waktu itu Avi masih berusia 6 tahun. Dengan menggunakan asas praduga tak bersalah, dokter menelusuri asal usul riwayat klien memperoleh virus HIV. Dengan latar belakang kedua orang tua meninggal dengan ciri keluhan paru dan berat badan menurun, hal tersebut merupakan salah satu hal yang disebabkan oleh akibat kekebalan tubuh yang menurun.

Seperti kita ketahui , HIV-AIDS bisa menyerang siapa saja. Dari anak-anak hingga orang dewasa dengan berbagai cara penularan. Dari melalui hubungan sex yang tidak aman, transfusi darah, pemakaian jarum suntik bergantian, serta ibu ke janin yang dikandungnya / disusuinya. Meski demikian sangat mudah kok untuk mencegahnya supaya virus tidak mampir ke tubuh kita, yaitu dengan tidak melakukan hubungan sex sebelum menikah, setia dengan pasangan, menggunakan kondom dan melakukan edukasi dengan benar.

Nah untuk ibu yang tengah hamil (terutama yang memiliki resiko tinggi tertular HIV ) dan tidak ingin anaknya mengalami nasib serupa dengan Iva, ada baiknya bila ibu hamil sesegera mungkin melakukan VCT. Dengan VCT, dapat diketahui secara dini apakah seseorang tersebut terinfeksi HIV atau tidak. Bila nanti ternyata hasilnya positif, akan ada program pencegahan penularan ibu ke anak yang dikandungnya atau lebih dikenal dengan PMTCT (Prevention To Mother To Child Transmision). Dengan program tersebut seorang ibu yang terinfeksi HIV akan melakukan serangkaian program untuk mencegah tertularnya HIV ke janin yang dikandungnya, yaitu dengan ARV profilaksis pada usia kandungan 7 bulan, saat melahirkan dibantu dengan cesar dan menyusui dengan ASi eksklusif selama 3 bulan atau susu formula tanpa ASI.
(Esti Budi Utami, S.Psi)

close
Hubungi kami

Kami tidak aktif sekarang. Tapi Anda dapat mengirim email kepada kami dan segara mungkin untuk dibalas.

Questions, issues or concerns? I'd love to help you!

Tekan enter untuk mengobrol