Tag archives for:

Keluarga

Pojok Kespro

Mengenal Jenis Kontrasepsi

Posted on April 25, 2017 at 12:00 pm by / 0

               Keluarga berencana merupakan sebuah cara dimana pasangan yang telah menikah berhak menentukan berapa banyak akan memiliki keturunan. Saat ini tidak lagi dibatasi menjadi dua orang saja, tetapi ketika sebuah keluarga mampu mencukupi hak dankebutuhan dari keturunannya nanti, maka mereka berhak memiliki anak lebih dari dua. Ada banyak pilihan cara untuk mengatur kehamilan yaitu dengan cara menggunakan alat dan tanpa alat. Sebelum memutuskan memilih suatu cara KB, klien harus dapat meminta bimbingan atau konseling pada konselor atau petugas klinik, untuk memperkaya informasi dan memantapkan pilihan yang terbaik. Pilihan ber-KB bisa dengan cara:

Kontrasepsi Sederhana

a. Pantang Berkala

Sering disebut dengan metode kalender kesuburan, adalah pencegahan kehamilan dengan cara tidak melakukan senggama (hubungan seksual) pada saat perempuan dalam masa subur. Diperlukan kerjasama dan pengertian yang baik antara pasangan.

Kelemahannya : tidak semua perempuan mengetahui kapan masa suburnya, banyak perempuan yang haidnya tidak teratur, sehingga memungkinkan ada kesalahan dalam menghitung masa subur.

b. ASI (Amenore Laktasi)

Cara KB ini bersifat sementara (6 bulan pertama sejak persalinan) yang juga menunjang upaya pemberian ASI. Cara ini adalah memanfaatkan ketidaksuburan alamiah karena pemberian ASI. Hisapan bayi sewaktu menyusui menimbulkan efek yang menekan produksi hormon yang diperlukan bagi ovulasi. Tanpa ovulasi kehamilan tidak mungkin terjadi. Tetapi cara ini tidak dijamin keberhasilannya walaupun ASI tetap diberikan sebelum memberi makanan tambahan dan frekuensi pemberian ASI (menyusui) masih tetap tinggi.

c. Kondom

Adalah sarung karet tipis berbentuk silinder yang dipakai (disarungkan) pada alat kelamin laki-laki ketika bersenggama, atau berbentuk bulat spon yang dimasukkan kedalam vagina jika yang memakai perempuan. Kondom selain mencegah kehamilan, juga mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS). Kegagalan dapat terjadi jika kondom dipakai saat sperma sudah keluar atau tumpah, atau tidak segera dikeluarkan waktu penis telah lemas, jika kondom robek. Sehingga jika menggunakan kondom harus diperhatikan cara pemakaiannya.

Kontrasepsi Non Hormonal

IUD (Intra Uterine Device)

Dikenal juga sebagai spiral atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). IUD adalah alat kontrasepsi yang disisipkan kedalam rahim, terbuat dari bahan semacam plastic berwarna putih. Ada pula IUD yang sebagian plastiknya ditutupi tembaga dan bentuknya bermacam-macam. Kelemahannya beberapa perempuan mungkin mengalami rasa nyeri di perut dan perdarahan sedikit-sedikit. Tapi gejala tersebut hanya berlangsung sementara, karena adanya proses adaptasi pada tubuh.

Kontrasepsi Hormonal

a. Pil KB

Adalah pil/tablet yang diminum oleh perempuan untuk mencegah kehamilan jika diminum setiap hari. Pil ini terbuat dari hormon yang mempunyai kesamaan dengan hormon yang terdapat dalam tubuh perempuan, yaitu ekstrogen dan progresteron.  Pemakaian pil KB sebaiknya melakukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun, karena tidak disarankan penggunaan pil KB lebih dari lima tahun. Keberhasilan dari pil KB tergantung pada kepatuhan dalam mengkonsumsinya secara teratur, dan tidak boleh terlambat.

b. Suntikan KB

Adalah suatu cairan berisi zat hormon buatan yang dapat mencegah kehamilan, selama jangka waktu tertentu, ada yang satu bulan ada juga yang tiga bulan. cairan tersebut merupan hormon progresteron sintetis. Suntikan KB dapat melindungi pemakai dari anemia/kurang darah. Memberi perlindungan terhadap radang panggul dan pencegahan kanker rahim.

c. Susuk KB (Implan)

Susuk KB atau Implan adalah kapsul kecil yang berisi zat untuk mecegah kehamilan. Ada yang berisi enam, dua dan satu kapsul. Susuk dipasang dibawah kulit lengan kiri, dan untuk yang kidal pada lengan kanan. Susuk KB dengan enam kapsul bermanfaat mencegah kehamilan selama lima tahun, sedangkan yang berisi satu kapsul bermanfaat setahun. Dalam penggunaan susuk KB ini beberapa perempuan akan mengalami perdarahan atau haid tidak teratur.

Kontrasepsi dengan Operasi

a. Vasektomi

Adalah tindakan operasi kecil yang lebih ringan dari pada sunat/ khitan. Disebut juga kontrasepsi mantap pria. Vasektomi dilakukan dengan menutup saluran sperma (bibit laki-laki) dengan operasi kecil pada sebelah kiri dan kanan kantong zakar. Vasektomi bukan pengebirian. Setelah vasektomi laki-laki dapat tetap melakukan senggama seperti semula, dan air mani tetap dapat dikeluarkan, tetapi sudah tidak mengandung sperma lagi. Kegagalan dengan cara ini hampir tidak ada, dan tidak mengganggu gairah seksual.

b. Tubektomi

Adalah salah satu cara mencegah kehamilan dengan tindakan operasi pada saluran telur perempuan. Tubektomi dianjurkan bagi pasangan yang tidak ingin punya anak lagi. Pasangan yang jumlah anaknya telah cukup, dan mempunyai penyakit yang membahayakan kesehatan, atau pasangan yang telah gagal dengan cara KB lainnya. Operasi dilakukan dengan memotong atau mengikat saluran yang membawa sel telur ke rahim. Setelah operasi sel telur yang dihasilkan akan diserap kembali oleh tubuh tanpa menimbulkan kelainan apapun.

Kontrasepsi Darurat

Alat kontrasepsi darurat dalam bentuk pil, dikenal sebagai after morning pil, diminum setelah senggama yang tidak terlindungi. Cara ini diberikan pada perempuan yang melakukan senggama yang tidak terlindungi, yaitu senggama pertama yang tidak terlindungi, bukan senggama berikutnya yang tidak terlindungi. Pil kontrasepsi darurat tidak berfungsi efektif bila dilakukan berulang-ulang. Sebab pil tersebut tidak untuk pemakaian regular seperti halnya pil KB yang harus diminum secara teratur setiap hari.

Bagaimana, sudah mulai menentukan kah mana cara yang akan dipakai? Tentukan pilihanmu dengan pasanganmu, sehingga kalian berkomitmen untuk merencanakan masa depan secara bersama-sama. Jika ingin layanan dan konsultasi lebih lanjut, bisa langsung datang ke Klinik Warga Utama, PKBI Daerah Jawa Tengah.

Sumber :

  1. http://bidanrhyna.blogspot.co.id/2012/05/pengertian-kontrasepsi.html
  2. Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia tahun 2002
  3. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, edisi 3 tahun 2011
  4. http://aamsiti.blogspot.co.id/2010/03/kontrasepsi-alami.html
Kegiatan

Satukan Langkah dan Semangat untuk mewujudkan Keluarga Bertanggungjawab

Posted on June 29, 2013 at 5:47 pm by / 0

Sabtu, 29 Juni 2013 PKBI Daerah Jawa Tengah menggelar temu relawan dengan tema ” Satukan Langkah dan Semangat untuk mewujudkan Keluarga Bertanggungjawab” kegiatan ini diikuti oleh 90 orang terdiri dari Relawan PKBI Daerah Tengah dan Staff Pelaksana Daerah. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Pengurus Harian Daerah (PHD) PKBI Jawa Tengah dr. H.Hartono Hadisaputro, SpOG. Dalam sambutannya beliau menyampaikan maksud dan tujuan acara temu relawan ini yaitu bertujuan untuk menjelaskan tentang visi dan misi PKBI dan mengenal lebih dekat PKBI dan diharapkan menjadi penerus relawan PKBI di masa yang akan datang.

Satukan Langkah dan Semangat untuk mewujudkan Keluarga Bertanggungjawab

Selanjutnya disampaikan sharing pengalaman dari Bapak Toto Mudjiarto selaku wakil sekretaris PHD mengenai filosofi dan sejarah PKBI. Pada sesi ini disampaikan bahwa PKBI adalah lembaga swadaya masyarakat yang karakteristiknya milik masyarakat dan berunsur swadaya, berdiri 23 Desember 1957 di Jakarta, yang dibentuk dari para relawan yang peduli terhadap keselamatan Ibu dan anak. Atas dasar kematian ibu melahirkan dan bayi yang dilahirkan tinggi maka timbul pemikiran untuk mendirikan PKBI. Di PKBI itu tidak ada uang tapi perjuangan untuk ketidakberdayaan perempuan. Disampaikan juga bahwa sesuai dengan filosofi dan nilai-nilai PKBI maka PKBI percaya bahwa keluarga adalah pilar kesejahteraan hidup manusia. Dan PKBI menghargai semuanya dengan tidak membedakan agama, ras, suku bangsa, status sosial dan kedudukan setiap orang. Di ahir sesi pertama ini beliau menekankan kepada para relawan bahwa kekuatan PKBI berada di sumber daya relawan yang akan diolah menjadi 1 input menjadi satu visi dan misi PKBI.

Pada sesi berikutnya, disampaikan sharing pengalaman dari relawan senior, Bapak Soejatno Pedro, HD. Pada saat ini beliau menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Harian Daerah (PHD) PKBI Jawa Tengah. Beliau menyampaikan mengenai AD/ART PKBI yang merupakan peraturan tertinggi dan penting dalam sebuah organisasi atau perkumpulan. Berikutnya beliau menegaskan bahwa PKBI mempunyai asas Pancasila, bersemangatkan kerelawanan, kepeloporan, professional dan kemandirian. Sifat PKBI adalah terbuka, nirlaba, inovatif, dan mandiri. Peran PKBI adalah menciptakan Keluarga Bertanggungjawab, Meningkatkan Mutu Kegiatan KB dan Pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Sebagai relawan senior bapak Soejatno Pedro, HD menginformasikan bahwa relawan adalah perorangan yang peduli terhadap visi dan misi PKBI, baik itu pikiran, tenaga dan lain-lain. Sedangkan jenis keanggotaan ada tiga yaitu anggota biasa, anggota kehormatan dan anggota luar biasa. Pada ahir sesi ini beliau menegaskan pentingnya AD/ART untuk diketahui oleh semua relawan, beliau juga mempunyai harapan bahwa para relawan akan lebih kerasan dan lebih inovatif untuk membangun organisasi ini untuk memajukan bangsa dan Negara Indonesia tercinta.

Satukan Langkah dan Semangat untuk mewujudkan Keluarga Bertanggungjawab2

Sesi ketiga adalah penyampaikan informasi tentang program di PKBI Jateng oleh Direktur Pelaksana Daerah PKBI Jawa Tengah, Ibu Elisabet S.A, Skm, Mkes. Disampaikan bahwa PKBI Jawa tengah mempunyai 6 Project yaitu Youth Center Pilar yang sudah bekerja sama dengan 5 SMA dengan mengajari tentang kesehatan reproduksi, selain itu ada peer education, ceramah-ceramah di sekolah dan komunitas, kegiatan lain juga ada special even, kelas persiapan perkawinan, dll. Yang kedua adalah Klinik Warga Utama yang mempunyai pelayanan medis seperti pelayanan kehamilan, pemasangan alat kontrasepsi,dll dengan standar IPPF seperti adanya fasilitas tempat bermain anak, ruang konselor, ruang periksa, dll. Selain di Klinik, sosialisasi KB juga dilakukan di berbagai tempat di puskesmas, Ibu-ibu PKK dll. Project ketiga adalahRumah Pintar BangJo dengan program Kelompok belajar usia sekolah, PAUD, drop Out, pemberian ketrampilan seperti sablon dan sejenisnya.

Program ke empat adalah IIWC dalam program ini ada dua model workcamp yaitu jangka panjang dan jangka pendek, yang bekerja sama dengan dengan relawan asing, diberbagai tempat dan bermacam-macam kegiatan. Selanjutnya adalah 2 Project tentang penanggulangan HIV dan AIDS yaitu Program anak dan HIV di Grobogan dan Jepara serta Program penaggulangan hIV yang menyasar populasi kunci melalui program GF round 8 SSF. Selain beberapa project yang ada Direktur PKBI Jawa Tengah menginformasikan bahwa PKBI mempunyaiWisma PKBI yang mempunyai fasilitas seperti kamar tidur, Aula untuk ruang pertemuan yang sudah semewah hotel, parkir luas dan akses yang mudah.

Satukan Langkah dan Semangat untuk mewujudkan Keluarga Bertanggungjawab3

Pada sesi sharing yang terahir, Ny. Oerip Lestari DS, SE, MSi selaku Bendahara PHD membagikan pembelajaran seputar Manajemen Keuangan Organisasi. Pada sesi ini beliau menyampaikan tentang prosedur pengelolaan keuangan organisasi, mulai dari pencatatan, penggunaan sampai pada pertanggungjawaban.

Selanjutnya sesi diskusi terbuka antara peserta dengan pembicara, mulai dari visi dan misi PKBI hingga ke agenda pembinaan PKBI daerah Jawa Tengah kepada PKBI Cabang. Dari sesi diskusi ini nampak antusias peserta untuk mengenal lebih dalam organisasi PKBI dan pandangan – pandangan ke depan dalam memajukan organisasi PKBI Jawa Tengah, khususnya dalam menciptakan keluarga bertanggungjawab saat ini sebagai modal untuk menyambut bonus demografi sebentar lagi akan tiba.

KegiatanLifestylePojok Kespro

Dimulai, Kelas Persiapan Pernikahan

Posted on February 24, 2013 at 2:30 pm by / 0

Setiap pasangan umumnya berharap mempunyai kehidupan rumah tangga yang bahagia, langgeng, mapan secara ekonomi, dan mempunyai keturunan yang dapat dibanggakan. Fakta yang terjadi sering menunjukkan hal yang sebaliknya. Banyak pasangan tidak harmonis dan berakhir dengan perceraian. Menurut Dirjen Badan Peradilan Mahkamah Agung, di era reformasi, setiap tahunnya kurang lebih 2 juta pasangan di Indonesia mengajukan cerai, 12-15% diantaranya berakhir dengan perceraian. Tren yang terjadi menunjukkan adanya peningkatan kasus perceraian dimana selama 5 tahun terakhir telah terjadi peningkatan 81%. Jawa Tengah tercatat menempati urutan ketiga tertinggi setelah Jawa Barat dan Jawa Timur  dengan jumlah kasus perceraian sebanyak 12.019 pada tahun 2010. Selain berakhir dengan perceraian, ketidakharmonisan dalam rumah tangga juga berdampak pada psikologis anak yang dapat memicu penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja. Oleh karena itu persiapan perkawinan menjadi hal penting untuk dilakukan guna mengurangi terjadinya permasalahan dalam rumah tangga.

Atas dasar tersebut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah tahun 2012 mengembangkan program baru yaitu Kelas Persiapan Pernikahan (Marriage Preparation Class). Program ini melengkapi program yang sudah dikembangkan PKBI Jawa Tengah yang menggunakan pendekatan paripurna (comprehensive approach), yaitu berorientasi dari “hulu ke hilir”. Tidak hanya menangani permasalahan kesehatan di tataran kuratif seperti penanganan kasus KTD (kehamilan tidak dikehendaki), IMS dan HIV-AIDS tetapi juga memperkuat upaya preventif dan promotif seperti Kesehatan Reproduksi Remaja dan Kelas Persiapan Perkawinan.

Program ini menawarkan 3 paket kelas edukasi bagi calon pengantin maupun pasangan muda, yaitu: pertama, Kelas Dasar yang berisi hakekat perkawinan dan mengenal pasangan. Kedua, Kelas Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas dalan Rumah Tangga, serta Ketiga, Kelas Menjadi Orang Tua Bertanggungjawab. Masing-masing kelas dikemas dengan metode pembelajaran cara dewasa yang dibuat secara interaktif dan partisipatif. Dilengkapi pula dengan quiz, role play dan penggunaan alat peraga yang diperlukan. Kelas pertama akan dilaksanakan pada akhir Januari 2012 dan 100 pendaftar pertama tidak dikenakan biaya.

Program ini didukung oleh beberapa pakar yang ahli di bidangnya diantaranya dr.H.Hartono Hadisaputro, SpOG (Ketua PKBI Jawa Tengah); Prof. DR. Agnes Widanti, SH, CN (Pengurus PKBI- Pakar Hukum Kesehatan dan Pemerhati Perempuan dan Anak dari Unika Soegijapranata); Ny. Oerip Lestari DS, SE, MSi (Pengurus PKBI- Dosen USM), Dra. Hj. Fathimah Usman, MSi (Pengurus PKBI- Dosen IAIN), dan Toto Mudjiarto (Pengurus PKBI). (Esa/1/12)

LifestylePojok Kespro

Keluarga Kita, Keluarga yang Sehat, Bermartabat dan Kuat

Posted on January 23, 2013 at 1:34 pm by / 0

Mengupas masalah yang berkaitan dengan keluarga senantiasa memiliki daya tarik tersendiri, bahkan mungkin sama menariknya dengan masalah politik yang dewasa ini (Orde Reformasi) merupakan “makanan” sehari-hari bagi keluarga-keluarga di Indonesia.

Barang siapa yang mampu mengatur keluarga dengan baik, maka diapun akan mampu mengatur organisasi yang lebih luas didalam masyarakat. Mengapa?

Karena KELUARGA merupakan unit organisasi terkecil dari negara dan perannya sangat menentukan bagi tumbuhnya generasi muda sebagai pemegang tongkat estafet didalam mencapai cita-cita luhur suatu bangsa.

 

Keluarga terdiri dari Ayah, Ibu, dan Anak, dimana masing-masing mempunyai tanggung jawab, kewajiban dan hak didalam melaksanakan fungsinya.

Ayah – Ibu adalah inti keluarga, anak adalah mutiara dan buah cinta orang tua, sedangkan keluarga itu sendiri secara bulat merupakan inti bangsa.

Didalam manajemen keluarga, ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan, yaitu :

  1. a)    Keharmonisan hubungan orang tua ( Ayah dan Ibu )
  2. b)   Panutan atau contoh
  3. c)    Komunikasi ( dialog ) dua arah
  4. d)   Fasilitas yang memadai sebagai sarana pendukung

Dengan demikian apabila keempat faktor tersebut sudah terpenuhi, niscaya keutuhan dan ketahanan keluarga untuk menghadapi berbagai gangguan dapat diatasi secara baik.

Lifestyle

KASIH SAYANG SEBAGAI LANDASAN KOMUNUKASI KELUARGA

Posted on January 20, 2013 at 1:22 pm by / 0

Makna kasih sayang diajarkan oleh semua agama tanpa kecuali, dimana penganut masing-masing agama itu mencoba untuk menerapkannya dengan baik dan benar.

Dalam Islam, kasih dan sayang punya dua dimensi, yaitu hubungan dengan Allah (habIul minAllah ) yang sifatnya vertikal dan hubungan antar sesama hamba Allah (habIum minnanas) yang sifatnya horizontal.

Kasih sayang pada sesama wujudnya dalam berbagai perbuatan, terutama kasih sayang pada orang tua dan anak.

Kasih sayang orang tua khususnya ibu pada anaknya adalah kasih sayang yang tulus dan murni. Pepatah kuno yang mengatakan “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” memang benar adanya.

Siapa yang tidak sayang pada anaknya sendiri, anak yang dikadung selama 9 (sembilan) bulan adalah sibiran tulang dan buah hati pengarang jantung.

Nyawa menjadi taruhan ibu, tatkalasi jabang bayi lahir di dunua. Tetapi apakah artinya cinta bagi si anak kalau orang tua salah menerapkannya ?. Justru disinilah kunci serta letak tanggung jawab kasih sayang itu.

Jangan sampai terjadi “kecil termanja-manja, besar terbawa-bawa, tua berubah tidak”. Kita harus menyadari bahwa anak bukanlah sekedar buah cinta suami-istri, melainkan amanah Allah yang harus dirawat, dididik, diasuh secara bertanggung jawab sesuai dengan petunjuk-Nya agar menjadi anak-anak saleh.

Namun jangan sampai melupakan kurun waktu, barangkali kata-kata Sayidina Ali dapat dijadikan pegangan: “Ajarkan anak-anakmu karena mereka diciptakan untuk suatu masa yang berlainan dengan masa kamu (waktu kamu masih anak-anak)”.

Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan bahwa antara generasi yang suatu dengan generasi berikutnya mengandung perbedaan, tetapi dari unsur ketidaksamaan itu dapat dicari titik-titik temu yang melahirkan kesatuan visi atau pandangan yang positif.

Anak wajib dibimbing dan diarahkan, tetapi dia juga berhak menentukan masa depannya sendiri. Mereka bukanlah duplikat kita, melainkan pribadi-pribadi yang mandiri serta bebas berfikir dan bertindak.

Jadi jangan sekali-kali orang tua memaksakan kehendak, bisa fatal akibatnya.

Di era modern yang bebas, sarat dengan keterbukaan dan kesetaraan gender makin banyak ibu yang berkiprah diluar rumah.

Mereka berkarir karena panggilan jiwa maupun “terpaksa” membantu suami mencari nafkah, mengakibatkan pengasuhan anak menjadi berkurang atau malah cendrung mengalami kesulitan membagi waktu (akibat peran gandanya).

Sebagimana disabdakan oleh nabi Muhammad S.A.W (diriwayatkan oleh H.R. Al Hakim), “hak anak tarhadap oarang tuanya adalah :

1)    Memperoleh nama yang baik

2)   Diajarkan adab dan sopan santun

3)   Diajar membaca dan menulis

4)   Diajar berenang dan memanah (mencari nafkah)

5)   Dinikahkan

Hak anak itu identik dengan kewajiban orang tua terhadap anaknya yang bisa dirangkum dalam satu kata “PENDIDIKAN”.

Makna pendidikan sangat penting didalam keluarga sehingga ayah yang baik adalah ayah yang mampu memberikan bekal utama bagi anak-anaknya dikemudian hari yakni pendidikan (Agama, Moral, Tradisi, dan Kearifan Lokal). Untuk itu, komunikasi dalam keluarga memegang peran sentral. Yang menjadi masalah dewasa ini, dengan tingkat kesibukan yang luar biasa tingginya dimana orang tua maupun anak jarang bertatap muka, bagaimana menjalin komunikasi yang akrab ?

Dalam uraian berikut ini akan dicoba untuk mengupasnya melalui aspek keluarga, yang terdiri dari anak-anak berumur dibawah usia 10 tahun dan anak-anak diatas 15 tahun.

Mengapa diambil batasan umur tersebut, tidak lain karena kami menganggap bahwa :

1)    Anak berusia 5 – 10 tahun memerlukan fondasi pendidikan yang metode penyampaiannya sederhana, mudah diserap, dan mudah diterapkan.

2)   Anak remaja, berusia 15 – 24 tahun, biasanya kelompok ini untuk sementara sulit diarahkan atau dibina, karna itu memerlukan kesabaran, pengertian serta keuletan.

  1. a)    Pendekatan Pada Golongan Pra – Remaja

Kapan pendidikan yang bermuatan nilai dan norma luhur mulai diajarkan ?

Bilamana mungkin pada saat yang sangat dini, bahkan ada yang berpendapat dimulai sejak janin tumbuh dalam kandungan.

Artinya seorang ibu selama kehamilannya harus berbudi luhur, dan berprilaku terpuji demikian juga sang calon bapak.

Tujuannya tidak lain agar bayinya kelak dapat menjadi anak yang saleh, sehat jasmani maupun rohaninya.

Kemudian setelah bayi tumbuh menjadi anak-anak pembinaan terus berlanjut bahkan ditingkatkan.

Prof. Dr. William Bolken, seorang sarjana psikhiatri – anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Hawaii, mengatakan bahwa hubungan emosional ibu dengan anaknya merupaka unsur penting bagi perkembangan si anak.

Ketidakpedulian ibu terhadap bayinya, secara psikologis jelas tidak menguntungkan.

Disini nampak bahwa peran seorang ibu sangat menentukan, apalagi tempat dan fungsinya tidak dapat diganti oleh siapapun.

Banyak teori yang diajarkan untuk mendidik anak, tetapi dalam kenyataannya tentu berbeda sehingga memerlukan improvisasi dan variasi tergantung pada lingkungan dimana anak itu berada.

Pendekatan yang dilakukan pada kelompok ini lebih banyak bersifat bimbingan, melindungi (protective) asal jangan berlebihan (over protective) supaya anak dapat mandiri.

  1. b)   Pendekatan Pada Golongan Remaja

Apakah seorang anak tumbuh menjadi seorang pembangkang atau “anak mama” (anak manis yang penurut), sebenarnya banyak tergantung pada sikap orang tua sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa keberhasilan mendidik anak adalah hasil dari sikap tegas yang ditunjukkan oleh orang tua. Sikap tegas dan konsisten kadang-kadang memang sulit dilakukan bahkan orang tua cenderung besikap ambivalen.

Mendiang Dr. Benyamin Spock, dokter spesialis anak terkenal dari Amerika, pernah mengungkapkan adanya dua sebab mengapa orang tua tidak jujur atau memakai standar ganda.

Pertama  : Orang tua tidak yakin akan kebenaran tindakannya, seperti yang sering tampak pada orang tua masa kini (Orang tua peragu)

Kedua      : Orang tua dengan sadar menginginkan agar anaknya berbuat sesuatu yang baik. Tetapi dilain pihak mereka sendiri ingat betapa bencinya mereka, bila dulu disuruh melakukan sesuatu yang sama oleh orang tuanya sendiri.

Dalam situasi yang serba sibuk ini, anggota keluarga mengalami kesulitan untuk menjalani komunikasi. Oleh karena itu, tentunya harus dicari jalan bagaimana komunikasi dapat terbentuk sementara kesibukan atau aktivitas anggota keluarga tidak terganggu.

Salah satu cara yang ditawarkan adalah saat makan bersama (terutama makan malam), dimana seluruh anggota keluarga diusahakan hadir.

Kebiasaan minum teh di sore hari sambil menikmati TV juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi, biarkanlah anak-anak melontarkan komentar-komentar lucu pada saat ini.

Sebab menurut hemat kami, bentuk komunikasi antara orang tua – anak tidak harus dilakukan secara formal dan serius, kecuali untuk hal-hal tertentu yang memerlukan perhatian khusus.

Obrolan santai antara orang tua – anak dapat berlangsung pada saat mereka melakukan kegiatan bareng, misal ; memasak, berkebun, mencuci mobil, membersihkan rumah, dan sebagainya.

Justru yang penting sebenarnya bukan kuantitas hubungan orang tua – anak, malainkan kualitas hubungan (semua komunikasi) yang terjalin secara wajar dan dilandasi saling pengertian.

Walaupun berbagai taktik telah dilakukan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya, tetapi ada kalanya anak bersebrangan atau memusuhi orang tuanya tanpa peduli orang tua bijaksana atau tidak.

Andaikata terjadi “perang dingin” semacam itu, tidak perlu dihindari sebab sangat manusiawi dan bahkan harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

Pada dasarnya anak tidak menyukai oarang tua yang otoriter, pilih kasih, bawel, pemarah dan tidak konsisten pada peraturan yang dibuatnya sendiri (Orang dewasapun juga tidak menyukai inkonsistensi)

Remaja menyukai dan menghormati sikap orang tua yang tegas dan berpendirin teguh tentang apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Mereka tidak akan menentang, apabila orang tua bersikap konsisten, konsekuen, membuka diri dan selalu menunjukan kasih sayang.

close
Hubungi kami

Kami tidak aktif sekarang. Tapi Anda dapat mengirim email kepada kami dan segara mungkin untuk dibalas.

Questions, issues or concerns? I'd love to help you!

Tekan enter untuk mengobrol