Tag archives for:

Kespro

BeritaKarir

Disabilitas Dan Kesehatan Reproduksi

Posted on May 12, 2016 at 12:49 pm by / 0

Jembawan (12/5). Siang itu di aula PKBI Jateng, suasana santai dan penuh canda tapi sangat sarat dengan makna. Kali ini PKBI Jawa Tengah mengundang Pengurus Pertuni (Persatuan tuna netra Indonesia) Jawa Tengah untuk berbagi pengalamannya sebagai penyandang disabilitas dalam sebuah acara yang bertajuk Share and Care: Disabilitas dan Kesehatan Reproduksi.

Acara yang dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta yang terdiri dari karyawan, relawan dan anggota peer educator ini diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada peserta agar mereka mengerti apa saja yang dialami para penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Harapannya, melalui sharing ini, karyawan dan relawan PKBI Jawa Tengah lebih bisa menghargai, memahami, dan mengerti kebutuhan mereka. Sehingga tidak menjadi pelaku diskriminasi.

Terdapat lima pengurus Pertuni yang hadir dan berbagi pada kesempatan tersebut yaitu Pak Eddy (Ketua Pertuni), Pak Suryandaru, Mas Indra, Mas Ari dan Mbak Eka Pratiwi. Kebetulan kelimanya mengalami disabilitas ketika sudah menginjak remaja karena berbagai latar belakang seperti kecelakaan, salah obat maupun mengalami low vision sejak kecil. Hebatnya, kelimanya telah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Bahkan ada yang lulus dengan predikat cumlaude. Ada pula yang telah pergi ke berbagai benua baik mewakili Pertuni maupun kegiatan lainnya. Tentunya capaian tersebut bukanlah hal yang dengan mudah begitu saja mereka peroleh, tetapi dengan perjuangan yang panjang.

Pak Eddy, Ketua Pertuni, bercerita bahwa tahun 1998 di usia 18 tahun, dua hari menjelang ujian masuk perguruan tinggi dirinya mengalami kecelakaan sepeda motor yang parah, hingga otaknya harus dioperasi. Dampaknya dia harus mengalami kebutaan di kedua matanya, telinga kanannya tidak dapat mendengar dan hidungnya tidak bisa membaui. Dia sangat terpukul waktu itu, namun berkat dukungan keluarganya yang begitu besar maka dia berusaha bangkit. Bukan hal yang mudah, namun akhirnya dia bersyukur karena dua tahun kemudian diterima di Fakultas Hukum Undip Semarang.

Proses kuliah mengandalkan rekaman dan karena waktu itu belum ada komputer, maka ujiannya pun menggunakan mesin tik, jadi kemana-mana dia menenteng mesin tik. Enam tahun berhasil menyelesaikan studi dan saat ini bekerja sebagai telemarketing di sebuah lembaga pengembangan SDM. Bersyukur pula dia dikaruniai seorang istri dan tiga orang anak yang semuanya awas. Demikian sharingnya sambil memberikan semangat kepada para peserta.

Sedangkan Pak Suryandaru yang pada usia dua tahun mengalami iritasi mata, oleh dokter diberi obat yang dampaknya sangat buruk bagi penglihatannya, hingga pada usia belasan akhirnya tidak dapat melihat sama sekali. Dia menuturkan bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menciptakan umatnya. Bahwa kendala tidak dapat melihat bukanlah cacat yang sering di identikkan sebagai sesuatu yang buruk, tetapi lebih tepatnya mengalami mal fungsi.

pertuniNah, disabilitas, adalah sebuah kondisi dimana seseorang mengalami mal fungsi, sehingga dia mengalami kesulitan mengakses lingkungan di masyarakat yang menganut asas kesetaraan. Hal ini tidak hanya dialami oleh tunanetra saja tetapi juga mereka yang tak mampu bicara, tidak mampu berdiri, berjalan, mendengar, maupun lainnya. Bila suatu saat hambatan akses sudah tidak ada lagi maka disabilitas itu tidak ada. Oleh karenanya saat ini yang dibutukan adalah kemudahan akses, tuturnya.

Dicontohkan pula berbagai hambatan yang dialaminya sebagai penyandang disabilitas diantaranya tidak diperbolehkan memiliki rekening bank dengan alasan tanda tangannya tidak konsisten. Setiap kali naik pesawat, harus menandatangani surat keterangan sakit, sehingga konsekuensinya bila terjadi kecelakaan maka tidak akan diberi ganti rugi dengan asumsi bahwa penumpang tersebut memang tidak mampu menyelamatkan diri. Pernah pula ada anggota Pertuni yang batal diterima sebagai PNS karena tunanetra. Batasan usia penerimaan CPNS juga diskriminasi bagi penyandang tunanetra, karena pada umumnya tuna netra membutuhkan waktu belajar yang lebih lama daripada mereka yang awas.

Terkait layanan kesehatan, Pak Daru juga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan ketika periksa gigi. Dokter yang melayani nampaknya bingung dan kikuk sehingga isntruksi yang diberikan kurang jelas, wal hasil Pak Daru menabrak beberapa peralatan di ruang periksa. Belum lagi ketika berbicara jalan dan transportasi. “Di beberapa jalan trotoar di Kota Semarang sudah mulai dipasang guiding pad, tetapi apa yang terjadi, ada pula guiding pad yang diujungnya ada pohonnya, terpotong lintasan mobil, ada pula yang memang sengaja di pasang melingkari pohon untuk hiasan” paparnya sambil tertawa.

Acara yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam ini diikuti oleh peserta dengan antusias, terlihat dari jumlah penanya yang lumayan banyak. Tentunya semua pertanyaan dijawab dengan santai dan mengena oleh kawan-kawan Pertuni.

Penandatanganan MoU

            Pada akhir kegiatan, dilakukan penandatanganan MoU antara PKBI Jawa Tengah dengan PD Pertuni Jawa Tengah. MoU yang berlaku hingga dua tahun kedepan, merupakan penanda bahwa kedua belah pihak mempunyai komitmen untuk bersama-sama saling mendukung dalam upaya pemenuhan hak kesehatan reproduksi kepada semua orang, termasuk mereka yang mengalami disabilitas.

            Seperti yang pernah dimuat pada Jembawan 8 edisi sebelumnya, bahwa para anggota pertuni saat ini masih minim akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi dan seksual. Sementara mereka sendiri mengakui bahwa mereka sangat membutuhkan informasi tersebut. Oleh karenanya, mereka berupaya untuk melakukan pemenuhan hak-hak anggotanya. Beberapa kegiatan telah mereka lakukan diantaranya FGD kesehatan reproduksi, sosialisasi dan pelatihan yang difasilitasi oleh ICOM dan PKBI Jateng. Kedepan kegiatan-kegiatan untuk pemberian informasi akan dilakukan bersama PKBI Jawa Tengah. Sukses untuk Pertuni Jawa Tengah.** [lisa]

BeritaKegiatan

Remaja Pertuni Jateng Belajar Kespro

Posted on December 15, 2015 at 3:18 pm by / 0

Semarang, 29/11.  Kurang lebih 40 remaja dari Jawa Tengah yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jateng, pada Minggu Pagi 29/11 mengikuti sosialisasi Hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual yang bertempat di BP Dikjur Jl. Brotojoyo Semarang. Kali ini PKBI Jawa Tengah diundang panitia untuk memfasilitasi mereka. Ini adalah pengalaman pertama bagi PKBI Jateng memfasilitasi kawan-kawan tunanetra, dan ternyata pengalaman pertama juga bagi Pertuni Jateng menyelenggarakan kegiatan yang fokus pada kesehatan reproduksi.

Kegiatan yang berlangsung kurang lebih 3 jam tersebut disambut antusias oleh para peserta yang berasal dari beberapa kota di Jawa Tengah seperti Kudus, Semarang, Salatiga, Magelang dan Temanggung. Peserta pelatihan ini adalah remaja yang belum menikah, dengan harapan agar mereka mempunyai pemahaman yang cukup mengenai kesehatan reproduksi dan hak-haknya. “Kegiatan ini sangat penting, karena teman-teman selama ini belum pernah mendapat informasi mengenai kesehatan reproduksi, padahal kami juga rentan terhadap pelecehan maupun kekerasan karena keterbatasan kami” ujar Eka Pertiwi Taufanty (24), Pengurus Daerah Pertuni Jateng yang juga menjadi panitia pelaksana kegiatan ini. Mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro ini juga berharap agar kawan-kawannya setelah mendapat sosialisasi, mereka lebih peduli untuk menjaga kesehatan reproduksinya, juga lebih pahan akan hak-haknya.

Fasilitator dari PKBI Jawa Tengah, Dwi Yunanto, mengaku bahwa pada awalnya merasa ragu, bagaimana caranya memfasilitasi kawan-kawan tuna netra pasalnya selama ini sarana pendukung baik slide maupun materi yang dimiliki semuanya mengandalkan visual. Sementara PKBI Jawa Tengah pun juga belum mempunyai alat peraga untuk kaum tuna netra. Namun ternyata para pesertanya sangat luar biasa, mereka sangat koperatif dan antusias sehingga di akhir session tidak ada lagi rasa kekhawatiran dan sosialisasi berjalan lancar.

Selama tiga jam, ada 25 pertanyaan yang diajukan peserta diantaranya apakah masturbasi boleh dilakukan, apakah risikonya?; mengapa menstruasi tidak teratur, apa sebanya?; Bila sebelum menstruasi keluar keputihan, normalkah?; mengapa kalau deket dengan cewek rasanya “greng” dan di penis bisa keluar cairan?; apakah dorongan seks orang tunanetra lebih besar dibanding dengan yang awas? (red: awas adalah sebutan bagi orang yang bisa melihat).  Dan beberapa pertanyaan lainnya. Semua pertanyaan bisa dijawab dengan baik oleh fasilitator dengan gayanya yang lucu hingga tak terasa waktunya selesai. Meski demikian, kedepan agar prosesnya lebih maksimal dibutuhkan alat-alat peraga semacam phantom yang khusus untuk tuna netra.

Butuh Akses Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Menurut Eka, sosialisasi ini merupakan tahap kedua yang dilakukan Pertuni. Sebelumnya mereka menyelenggarakan kegiatan foccus group discussion (FGD) tentang kesehatan reproduksi dan seksual di tiga kabupaten yaitu Kudus, Kab. Semarang dan Magelang. Dari FGD tersebut diketahui bahwa ada sebagian remaja yang sudah aktif melakukan hubungan seks. Dan sayangnya pengetahuannya masih minim sehingga mereka membutuhkan akses pendidikan kespro yang komprehensif.

Selain sosialisasi, Pertuni juga berencana menyelenggarakan pelatihan fasilitator kesehatan reproduksi, sehingga kedepan mereka bisa menyebarkan informasi kepada kawan-kawannya khususnya yang diluar Semarang.

            Direktur Eksekutif PKBI Jawa Tengah, Elisabet S.A Widyastuti mengaku senang bisa bekerjasama dengan Pertuni Jateng. Dan sebagai LSM yang peduli terhadap kesehatan reproduksi, PKBI memang berkomitmen untuk dapat membantu komunitas PMSEU (poor, marginalized, social excluded dan underserve). Dia juga berharap agar kedepan PKBI dapat lebih banyak membantu para remaja berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak-haknya, khususnya terkait kesehatan reproduksi.**[Esa]

Kegiatan

Tingginya Kehamilan Remaja Tuntut PKBI Jateng Susun Program Kerja 2015-2018

Posted on April 23, 2015 at 12:12 pm by / 0

Krapyak (7/2). Keprihatinan atas maraknya kehamilan remaja yang terjadi, berdasarkan data yang dimiliki oleh Pusat Informasi dan Layanan Remaja (PILAR) PKBI Jawa Tengah tahun 2013 sebanyak 64 kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) pada remaja dan 26 kasus berasal dari Semarang. Dari 268 kasus remaja yang mengakses layanan konseling, (KTD) menduduki peringkat pertama, diikuti konflik dengan pacar sebanyak 49 kasus dan 25 taksir-menaksir, 20 kasus putus dengan pacar. Di sisi lain jumlah remaja usia 10-24 tahun di Jawa Tengah berdasarkan sensus 2010 mencapai 27%; Dan mereka sangat rendah aksesnya terhadap kesehatan seksual dan reproduksi. Untuk itu guna mengurangi penularan IMS, HIV-AIDS serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki, maka program ini akan mendapatkan prioritas. Sementara data Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tertinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI th. 2013) dan karena jumlah abortus yang tidak tercatat dengan baik, maka ada perhitungan yang memperkirakan abortus menyumbang kematian lebih dari 30% AKI, hal ini disebabkan abortus masih dianggap sebagai tindakan kriminal. PKBI Jawa Tengah dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan merealisasikan visi dan misinya selama dua hari (6-7/2) menyelenggarakan workshop.

Workshop Pengurus Daerah

Bertempat di Gedung PKBI Jateng jalan Jembawan no. 8 Semarang, rapat dihadiri oleh Dewan Pembina, Pengurus Daerah (PD) masa bhakti 2014-2018 dan Jajaran Eksekutif termasuk Koordinator program. Workshop tersebut membahas pelaksanaan program dan melakukan evaluasi empat bidang kerja meliputi; bidang organisasi, bidang program, bidang keuangan dan bidang pengembangan sumber daya. Hasil evaluasi tersebut menjadi landasan pelaksanaan program selanjutnya dimana PKBI berusaha meningkatkan kualitas pelayanan yang bermutu dan humanis. Tidak kalah pentingnya di Bidang Organisasi, PKBI telah memiliki 23 cabang di kota dan kabupaten se Jateng, dari ke 23 cabang tersebut 7 masuk dalam kategori A, 12 B dan 4 C. Ketentuan kategori tersebut berdasarkan tingkat keaktifan dan jumlah program yang diaksanaan. Kedepan diharapkan seluruh cabang memenuhi standard organisasi yang mengacu pada 10 prinsip yaitu: Terbuka dan demokrasi, kepengurusan yang baik, strategis dan progresif, transparan dan akuntabel, sehat secara finansial serta berkomitmen terhadap kualitas layanan. Untuk mewujudkan layanan bermutu, PKBI juga telah melakukan audensi dengan Gubernur Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu, yang dipinpin oleh Ketua PD dr. Widoyono, MPH, yang hasilnya Pak Ganjar dengan tegas menanggapi persoalan Jawa Tengah yang dilaporkan PKBI menjadi tantangan bersama. Beberapa hal yang bersentuhan dengan KB, Pencegahan HIV dan persoalan remaja. Beliau melihatnya tidak hanya secara politis, namun diperlukan tindakan yang holistik. Menindaklanjuti tawaran tersebut, PKBI Jateng dalam waktu dekat akan melakukan pengembangan program di Kabupaten Brebes. Sementara itu untuk menjawab kebutuhan masyarakat, Klinik Warga Utama PKBI Jawa Tengah akan menambahkan layanan IMS, VCT, eksterpasi polip servik, Insisi kista bartholini dan repair perineum. Selain itu PKBI akan memberikan layanan mobile yang diharapkan dapat mendekatkan layanan kepada masyarakat. Sementara itu Direktur Eksekutif PKBI Jateng , Elisabet S.A. Widyastuti menyampaikan bahwa momen rapat kerja ini sangat penting karena hasilnya mendasari kinerja PKBI kedepan, selain itu kemampuan finansial dan sumber daya pendukung juga peran pihak donor akan membantu mewujudkan realisasi program dimaksud. Keberhasilan PKBI Jateng mendapat akreditasi A, awal tahun 2014 memicu semangat untuk mempersiapkan pembinaan dan akreditasi cabang lebih lanjut. (antonius juang saksono)

close
Hubungi kami

Kami tidak aktif sekarang. Tapi Anda dapat mengirim email kepada kami dan segara mungkin untuk dibalas.

Questions, issues or concerns? I'd love to help you!

Tekan enter untuk mengobrol