Remaja Pertuni Jateng Belajar Kespro

Semarang, 29/11.  Kurang lebih 40 remaja dari Jawa Tengah yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jateng, pada Minggu Pagi 29/11 mengikuti sosialisasi Hak-hak kesehatan reproduksi dan seksual yang bertempat di BP Dikjur Jl. Brotojoyo Semarang. Kali ini PKBI Jawa Tengah diundang panitia untuk memfasilitasi mereka. Ini adalah pengalaman pertama bagi PKBI Jateng memfasilitasi kawan-kawan tunanetra, dan ternyata pengalaman pertama juga bagi Pertuni Jateng menyelenggarakan kegiatan yang fokus pada kesehatan reproduksi.

Kegiatan yang berlangsung kurang lebih 3 jam tersebut disambut antusias oleh para peserta yang berasal dari beberapa kota di Jawa Tengah seperti Kudus, Semarang, Salatiga, Magelang dan Temanggung. Peserta pelatihan ini adalah remaja yang belum menikah, dengan harapan agar mereka mempunyai pemahaman yang cukup mengenai kesehatan reproduksi dan hak-haknya. “Kegiatan ini sangat penting, karena teman-teman selama ini belum pernah mendapat informasi mengenai kesehatan reproduksi, padahal kami juga rentan terhadap pelecehan maupun kekerasan karena keterbatasan kami” ujar Eka Pertiwi Taufanty (24), Pengurus Daerah Pertuni Jateng yang juga menjadi panitia pelaksana kegiatan ini. Mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro ini juga berharap agar kawan-kawannya setelah mendapat sosialisasi, mereka lebih peduli untuk menjaga kesehatan reproduksinya, juga lebih pahan akan hak-haknya.

Fasilitator dari PKBI Jawa Tengah, Dwi Yunanto, mengaku bahwa pada awalnya merasa ragu, bagaimana caranya memfasilitasi kawan-kawan tuna netra pasalnya selama ini sarana pendukung baik slide maupun materi yang dimiliki semuanya mengandalkan visual. Sementara PKBI Jawa Tengah pun juga belum mempunyai alat peraga untuk kaum tuna netra. Namun ternyata para pesertanya sangat luar biasa, mereka sangat koperatif dan antusias sehingga di akhir session tidak ada lagi rasa kekhawatiran dan sosialisasi berjalan lancar.

Selama tiga jam, ada 25 pertanyaan yang diajukan peserta diantaranya apakah masturbasi boleh dilakukan, apakah risikonya?; mengapa menstruasi tidak teratur, apa sebanya?; Bila sebelum menstruasi keluar keputihan, normalkah?; mengapa kalau deket dengan cewek rasanya “greng” dan di penis bisa keluar cairan?; apakah dorongan seks orang tunanetra lebih besar dibanding dengan yang awas? (red: awas adalah sebutan bagi orang yang bisa melihat).  Dan beberapa pertanyaan lainnya. Semua pertanyaan bisa dijawab dengan baik oleh fasilitator dengan gayanya yang lucu hingga tak terasa waktunya selesai. Meski demikian, kedepan agar prosesnya lebih maksimal dibutuhkan alat-alat peraga semacam phantom yang khusus untuk tuna netra.

Butuh Akses Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Menurut Eka, sosialisasi ini merupakan tahap kedua yang dilakukan Pertuni. Sebelumnya mereka menyelenggarakan kegiatan foccus group discussion (FGD) tentang kesehatan reproduksi dan seksual di tiga kabupaten yaitu Kudus, Kab. Semarang dan Magelang. Dari FGD tersebut diketahui bahwa ada sebagian remaja yang sudah aktif melakukan hubungan seks. Dan sayangnya pengetahuannya masih minim sehingga mereka membutuhkan akses pendidikan kespro yang komprehensif.

Selain sosialisasi, Pertuni juga berencana menyelenggarakan pelatihan fasilitator kesehatan reproduksi, sehingga kedepan mereka bisa menyebarkan informasi kepada kawan-kawannya khususnya yang diluar Semarang.

Direktur Eksekutif PKBI Jawa Tengah, Elisabet S.A Widyastuti mengaku senang bisa bekerjasama dengan Pertuni Jateng. Dan sebagai LSM yang peduli terhadap kesehatan reproduksi, PKBI memang berkomitmen untuk dapat membantu komunitas PMSEU (poor, marginalized, social excluded dan underserve). Dia juga berharap agar kedepan PKBI dapat lebih banyak membantu para remaja berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak-haknya, khususnya terkait kesehatan reproduksi.**[Esa]

Sebarkan

Tinggalkan Komentar