Hari ini adalah hari pertama kami memulai magang di kantor PKBI Jawa Tengah. Bisa dibilang magang di PKBI menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam hidup kami. Sejak awal, kami menyadari bahwa kegiatan ini bukan sekadar menjalankan tugas kampus, melainkan sebuah perjalanan untuk belajar memahami kehidupan nyata secara langsung. Perjalanan dimulai saat kami pertama kali menginjakkan kaki di kantor PKBI Jawa Tengah. Sambutan hangat kami kami terima dari Kak Rey, Kak Citra, serta Ibu Elisabeth selaku Direktur Eksekutif PKBI Jawa Tengah. Sambutan tersebut membuat kami merasa diterima dan semakin bersemangat menjalani hari pertama.
Setelah berbincang dan berdiskusi bersama, akhirnya kami ditempatkan di Rumah Pintar Bangjo atau yang biasa disebut Rumpin Bangjo. Rumpin merupakan salah satu program PKBI Jawa Tengah yang berfokus pada pemberdayaan anak jalanan dan kelompok marginal di Pondok Boro serta kawasan Kota Lama Semarang. Pada awalnya muncul pertanyaan di benak kami, “Apakah ini benar-benar bidang kami?”, “Apakah tidak melenceng dari jurusan yang kami pelajari?”, dan “Apa yang harus kami lakukan saat penerjunan nanti?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui sepanjang hari dan membuat kami diliputi perasaan cemas, namun tertantang pada waktu yang sama. Banyak rasa penasaran dari dalam diri kami.
Hingga akhirnya, kami dijadwalkan untuk terjun langsung ke Pondok Boro guna melakukan observasi pada Jumat sore. Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Saat kami hendak berangkat, hujan turun cukup deras. Kondisi cuaca yang tidak bersahabat membuat akses menuju lokasi menjadi berisiko, terlebih jalanan rawan macet dan banjir. Demi keselamatan bersama, dengan berat hati kegiatan penerjunan di Pondok Boro terpaksa dibatalkan dan dijadwalkan ulang pada Senin sore.
Hari Senin pertama kami..

Setelah akhir pekan usai, tibalah hari Senin di mana kami kembali melanjutkan kegiatan magang. Namun, di hari itu kami mendapatkan tugas yang cukup membuat kami tercengang dan menghantui pikiran selama seharian. Apa tugasnya? Tugas pertama yang benar-benar membuat kami terkejut adalah mempersiapkan dan memimpin ice breaking.
“Hah… ice breaking?”
Mungkin bagi teman-teman yang membaca cerita ini, ice breaking menjadi sesuatu yang sederhana. Hanya serangkaian pemanasan sebelum memulai sesi untuk mengaktifkan perhatian dari audiens. Namun, hal ini menjadi berbeda untuk kami. Bayangkan saja, kami yang biasanya berkutat dengan makalah, jurnal, dan artikel yang penuh analisis dan pemikiran serius tiba-tiba diminta memimpin tepuk-tepuk semangat sambil tersenyum lebar di depan audiens yang bahkan kami belum tau karakteristiknya seperti apa. Rasanya seperti berada di dunia yang berbeda. Jujur saja, saat itu kami merasa canggung dan sedikit tidak percaya diri. Namun, karena ini adalah tanggung jawab, kami harus tetap menjalankan tugas tersebut. Akhirnya, setelah melalui diskusi kelompok yang panjang, kami memutuskan Shinta dan Enes untuk memimpin tugas ice breaking .Tidak lantas langsung menyetujui, “penunjukkan paksa” Shinta dan Enes untuk memimpin ice breaking ini dilakukan oleh ketiga teman laki-laki dalam kelompok kami. Setelah perdebatan kecil yang cukup panjang, dengan setengah terpaksa namun penuh tanggung jawab, mereka akhirnya bersedia. Meski di dalam hati masih menahan geli melihat diri sendiri yang mendadak harus tampil ceria dan penuh energi.
Tepat pukul 14.00, kami bersiap berangkat menuju Pondok Boro. Karena lokasinya cukup jauh dan akses jalannya sering macet, kami memutuskan berangkat satu jam lebih awal agar kegiatan pembelajaran bisa dimulai tepat waktu dan kami bisa pulang sebelum hari terlalu sore. Sesampainya di Pondok Boro, kami cukup terkejut melihat kondisi lingkungan di sana. Beberapa rumah tampak sederhana dan cenderung kurang layak. Anak-anak mandi dengan menimba air dari sumur tanpa penutup, lingkungan keluarga yang keras, serta beberapa anak terlihat bersiap untuk pergi mengamen. Pemandangan itu membuat kami tersadar bahwa realitas kehidupan tidak selalu seindah yang kami bayangkan, bahkan untuk anak-anak yang seharusnya masih bisa menikmati masa kecilnya dengan belajar serta bermain.
Setelah melakukan observasi lingkungan, kami mulai berkenalan dengan adik-adik di sana. Ada sekitar 38 anak di Pondok Boro dan pada kunjungan pertama kami, banyak anak yang hadir serta berpartisipasi dengan penuh semangat. Helaan nafas lega diiringi “Alhamdulillah” keluar dari mulut kami saat melihat jumlah anak yang hadir. Antusiasme mereka benar-benar di luar dugaan. Saat waktu belajar hampir selesai dan kami harus pamit pulang, beberapa anak justru menahan kami. Salah satunya Zahra, ia berkata,
“Kak, masa cuma sebentar sih? Kita belum belajar.”
Kalimat sederhana itu membuat hati kami tersentuh. Dari situ kami tahu bahwa kehadiran kami berarti bagi mereka dan bahwa mereka benar-benar ingin belajar. Dengan lembut kami menjawab,
“Maaf ya, adik-adik. Untuk pertemuan kali ini kita cukupkan dulu. Minggu depan kita lanjut lagi, ya. Terima kasih sudah datang dan tetap semangat belajar.”
“Iya, Kak…” jawab mereka serempak.
Sebelum pulang, semua anak mengantre untuk bersalaman dengan kami dan kakak-kakak Rumpin, layaknya murid yang berpamitan kepada guru setelah pulang sekolah. Momen itu terasa hangat dan mengharukan. Setelah bersalaman, seorang anak bernama Agista berkata,
“Kak, besok belajarnya yang lama ya, yang seru!”
Kami pun tersenyum dan menjawab,
“Siap!. Kakak usahakan lebih lama dan lebih seru. Sekarang kakak pamit dulu. Hati-hati semuanya.”
Mereka bersorak sambil melambaikan tangan,
“Dada, Kak! Hati-hati di jalan!”
Lambaian tangan anak-anak menutup pertemuan pertama kami di Pondok Boro. Kami pulang dengan perasaan haru, kagum, sekaligus semakin yakin bahwa pengalaman ini akan menjadi pelajaran berharga dalam hidup kami.
Tibalah yang ditunggu-tunggu… Sabtu sore
Hari ini menjadi hari yang paling kami khawatirkan. Masih ingat tugas ice breaking yang kami ceritakan di awal? Nah, hari ini adalah hari dimana Shinta dan Enes harus memimpin ice breaking yang telah kami siapkan sebelumnya di depan anak-anak dampingan Rumpin Bangjo di sekitar Kota Lama. Setibanya di kawasan Kota Lama, tepatnya di belakang Pasar Ikan, kami sempat merasa percaya diri karena yang hadir baru beberapa anak dan relawan. Namun, beberapa menit kemudian kami terkejut anak-anak yang datang hampir dua kali lipat dari jumlah di Pondok Boro. Setelah melihat data, ternyata ada sekitar 46 anak yang hadir. Sekali lagi, sekitar 46 anak yang hadir. Jumlahnya cukup membuat Shinta dan Enes semakin gugup. Namun, kami sebagai teman sekelompok tetap menyemangati Shinta dan Enes. Terlebih dengan melihat semangat anak-anak. Kami sangat salut melihat semangat mereka. Banyak yang rumahnya jauh, tetapi tetap datang untuk belajar dengan dukungan penuh dari kakak-kakak relawan Rumpin. Ada yang dijemput dan diantar, ada yang diantar orang tua, bahkan ada yang datang sendiri. Semangat mereka benar-benar luar biasa.

Acara dimulai dengan pembukaan dan doa, lalu tibalah giliran kami memimpin ice breaking. Karena ini pengalaman pertama kami, wajar jika masih terasa canggung. Sebelum memulai, kami memperkenalkan diri terlebih dahulu—siapa kami dan mengapa kami hadir di sana. Setelah itu, dimulailah “Tepuk Semangat Dang-Ding-Dung”. Ketika kami berkata, “Tepuk SEMANGAT!” maka anak-anak menjawab:
TEPUK SEMANGAT
Prok… prok… prok… DANG… DANG… DANG…
Prok… prok… prok… DING… DING… DING…
Prok… prok… prok… DUNG… DUNG… DUNG…
SE… aha… aha…
MA… aha… aha…
NGAT… aha… aha…
SEMANGAT!!!
Ice breaking tersebut kami ulang beberapa kali. Bahkan ada seorang anak yang berkata, “Lagi, Kak… lagi!” Sempat terlintas kekhawatiran apakah anak-anak lain juga menikmatinya, tetapi akhirnya kami mengulanginya sekali lagi dengan penuh semangat. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan membuat name tag yang ditempel di dada. Dari sini kami melihat bahwa adik-adik disini mampu mendengarkan dan menerapkan apa yang telah diucapkan oleh kami dengan antusias.
Setelah pembuatan name tag selesai dan di tempel di dada masing-masing anak, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian beasiswa yang dipimpin langsung oleh Mbak Anisa selaku koordinator Rumpin. Acara ditutup dengan doa bersama sebelum pulang. Beberapa anak meminta kami mengantar mereka pulang. Ternyata rumah mereka cukup jauh, melewati gang-gang sempit hingga kami sempat kebingungan karena sinyal peta tidak dapat diakses saat kami selesai mengantar dan menuju jalan pulang. Setelah berputar-putar, akhirnya kami menemukan jalan raya.
Dari pengalaman hari itu, kami semakin menyadari betapa besar semangat belajar adik-adik Rumpin. Meski tempat belajar masih sederhana di emperan dekat pasar, berteduh di bawah bayangan gedung, dan duduk beralaskan tikar mereka tetap datang dengan penuh antusias. Semangat mereka menjadi pelajaran berharga bagi kami tentang arti perjuangan dan ketulusan dalam belajar.

Sepekan kemudian…
Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya kami kembali mendapat kesempatan untuk terjun lagi ke Pondok Boro. Kali ini, kami dipercaya untuk memimpin materi pembelajaran. Mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam, dan wilayah Pondok Boro sendiri sering mengalami banjir, kami memutuskan untuk menyampaikan materi tentang bencana alam, khususnya banjir dan tsunami.
Kami menyampaikkan bahwa banjir sering kali dianggap sepele, padahal banyak terjadi akibat kelalaian manusia, seperti membuang sampah ke sungai, menebang hutan secara liar, dan menyalahgunakan selokan untuk membakar sampah. Melalui materi ini, kami ingin menanamkan kesadaran kepada adik-adik agar lebih peduli terhadap lingkungan dan memahami dampak dari perbuatan tidak bertanggung jawab tersebut.
Pertemuan kedua ini, kami disambut dengan penuh keceriaan. Beberapa anak sudah bersiap menunggu kedatangan kami, bahkan ada yang langsung menghampiri saat kami turun dari motor untuk bersalaman. Mereka mengatakan sudah siap belajar, dan sambutan hangat itu membuat rasa lelah kami seketika hilang. Sebelum memulai pembelajaran, kami bersama-sama menyiapkan tempat terlebih dahulu mengambil tikar dan mencari posisi yang cukup nyaman. Karena belum tersedia ruangan indoor, kegiatan belajar masih dilakukan di halaman terbuka tanpa atap. Kami hanya mengandalkan bayangan bangunan sekitar untuk berteduh. Jika hujan turun, dengan berat hati kami harus menunda pembelajaran yang sudah direncanakan.
Waktu berjalan begitu cepat. Dimulai dari pembukaan dan doa, dilanjutkan ice breaking yang penuh tawa, penyampaian materi, hingga simulasi sederhana—tanpa terasa kami sudah sampai di penghujung kegiatan. Menjelang penutup, kami biasanya meminta salah satu anak untuk memimpin doa dengan berkata,
“Siapa yang mau memimpin doa bersama kakak?”
Spontan mereka bersorak dan berebut,
“Saya, Kak!”
“Aku, Kak!”
“Aku saja kak “,
Melihat antusiasme mereka, hati kami terasa hangat. Ada yang masih ingin belajar lebih lama dan enggan mengakhiri pertemuan, ada juga yang masih ingin bermain bersama kami. Namun, karena jarak kos kami cukup jauh dan perjalanan sering terkendala macet, terlebih jika terjadi rob yang bisa membuat perjalanan berjam-jam, kami terpaksa segera berpamitan setelah kegiatan selesai. Meski waktu kami terbatas, setiap pertemuan di Pondok Boro selalu meninggalkan kesan mendalam dan menjadi pelajaran berharga bagi kami tentang semangat, kepedulian, dan arti kebersamaan.
Pekan demi pekan kami lalui dan tibalah kami diujung pertemuan
Hari ini adalah hari dimana kita terakhir dalam menjalankan tugas terjun lapangan di pondok boro. Disini kita akan membawakan sebuah materi tentang keberagaman budaya dan agama, untuk struktur acaranya masih sama di mulai dengan pembukaan dan doa, ice breaking, materi, media simulasi dan penutup.Sebagai informasi, kami sudah tidak canggung lagi memimpin ice breaking haha..
Kebahagiaan kami semakin bertambah ketika melihat banyak adik-adik datang dengan semangat belajar yang begitu besar. Mereka tampak antusias mengikuti kegiatan yang telah kami siapkan, salah satunya media pembelajaran berupa “pohon pertanyaan”. Dalam kegiatan ini, adik-adik diminta menjawab soal, lalu menempelkan jawabannya pada kelopak bunga yang tersedia. Suasana menjadi sangat meriah. Mereka berebut antrean untuk menempelkan jawaban, bahkan ketika soal telah habis, beberapa masih memohon, “Kak, lagi dong, Kak…” Antusiasme itu membuat kami terharu. Namun karena waktu terbatas, kami mengajak mereka kembali duduk untuk berdoa sebelum melanjutkan ke kegiatan berikutnya.

Namun, proses mengondisikan adik-adik tidak selalu berjalan mulus. Di tengah antusiasme kegiatan, dinamika anak-anak yang beragam mulai terlihat. Ada yang masih berlarian, ada yang bercanda berlebihan, dan ada pula yang sulit fokus mengikuti arahan. Situasi menjadi lebih menantang ketika terjadi pertengkaran antara dua anak. Awalnya, konflik tersebut tampak sepele, berupa saling ejek yang dilakukan secara spontan. Namun tanpa kami sadari, ejekan tersebut menyentuh aspek yang sensitif sehingga memicu emosi salah satu anak. Nada suara mulai meninggi, ekspresi wajah berubah, hingga akhirnya terjadi dorongan fisik. Kami segera menghampiri dan mencoba melerai dengan menenangkan keduanya serta meminta mereka berhenti. Alih-alih mereda, situasi sempat semakin memanas. Salah satu anak menangis sambil meluapkan emosinya, sementara yang lain bereaksi secara defensif. Kami berusaha memisahkan mereka secara fisik dan memberikan jarak agar tidak terjadi kontak lanjutan. Momen tersebut cukup menguras energi karena kami harus sigap, tegas, namun tetap menjaga pendekatan yang tidak menyalahkan secara sepihak.
Beberapa anak lain mulai memperhatikan kejadian tersebut, sehingga kami juga perlu memastikan situasi tidak memicu suasana kelas menjadi tidak terkendali. Dengan bantuan rekan pendamping lainnya, kami akhirnya berhasil memisahkan keduanya dan menenangkan situasi secara bertahap. Kami berbicara secara perlahan kepada masing-masing anak, membantu mereka memahami bahwa kekerasan bukanlah solusi, serta mengingatkan pentingnya saling menghargai. Peristiwa tersebut menjadi pengalaman berharga bagi kami. Kami menyadari bahwa mendampingi anak-anak bukan hanya tentang menyampaikan materi atau mengadakan kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga tentang menghadapi dinamika emosi yang kompleks. Anak-anak berada dalam fase perkembangan di mana mereka masih belajar mengelola perasaan, memahami perbedaan, dan menyelesaikan konflik secara sehat. Dari kejadian itu, kami belajar pentingnya kesiapan dalam manajemen kelas, kemampuan membaca situasi, serta respons yang cepat namun tetap empatik. Konflik yang terjadi memang cukup menegangkan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa proses pendampingan selalu melibatkan aspek sosial-emosional yang tidak bisa diabaikan.
Setelah suasana kembali kondusif, kami mengajak adik-adik melanjutkan kegiatan yang sudah dijanjikan sebelumnya, yaitu membuat kipas angin sederhana dari botol bekas. Kegiatan ini kami rancang sebagai bentuk pembelajaran kreatif sekaligus mengenalkan pemanfaatan barang bekas menjadi sesuatu yang berguna. Karena keterbatasan bahan, kami hanya memiliki empat botol bekas untuk digunakan. Hal ini membuat kami harus mengatur strategi agar semua anak tetap bisa terlibat. Beberapa anak kami tunjuk untuk mencoba secara langsung, sementara yang lain membantu memegang alat, memperhatikan langkah-langkahnya, atau menunggu giliran. Meskipun tidak semua dapat praktik secara bersamaan, antusiasme mereka tidak berkurang. Mereka justru saling mendekat, memperhatikan dengan rasa ingin tahu, dan sesekali bertanya,
“Kak, ini dipotongnya di mana?” atau“Kak, nanti ini bisa muter nggak?”
Kami mulai dengan menunjukkan cara memotong bagian botol, membentuk baling-baling sederhana, lalu memasangnya agar dapat berfungsi sebagai kipas manual. Beberapa anak terlihat sangat fokus memperhatikan setiap langkah, sementara yang lain tak sabar ingin segera mencoba sendiri. Ada yang tertawa ketika bentuknya belum sempurna, ada pula yang dengan bangga menunjukkan hasil karyanya meskipun masih sederhana. Di tengah proses tersebut, kami melihat bagaimana kegiatan sederhana ini mampu mengalihkan perhatian mereka dari kejadian sebelumnya. Energi yang tadi tersalurkan dalam pertengkaran perlahan berubah menjadi rasa penasaran dan semangat berkreasi. Mereka saling membantu, meminjamkan gunting, bahkan memberi komentar satu sama lain tentang hasil yang dibuat. Suasana yang sempat tegang berubah menjadi penuh tawa dan kerja sama.
Ketika kipas sederhana itu akhirnya selesai, beberapa anak langsung mencoba menggerakkannya dan tertawa puas melihat baling-balingnya berputar. Meskipun hasilnya tidak sempurna, kebanggaan terlihat jelas di wajah mereka. Bagi mereka, bukan sekadar kipas yang tercipta, tetapi pengalaman membuat sesuatu dengan tangan sendiri. Bagi kami, momen tersebut terasa bermakna. Dari kegiatan sederhana itu, kami belajar bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan fasilitas lengkap. Dengan alat seadanya dan pendekatan yang sabar, anak-anak tetap bisa belajar, berproses, dan merasa dihargai. Kegiatan membuat kipas bukan hanya tentang kerajinan tangan, tetapi juga tentang membangun fokus, kerja sama, serta rasa percaya diri pada anak-anak..
Tak terasa, senja mulai datang. Karena hari semakin sore dan seluruh rangkaian kegiatan telah selesai, kami memutuskan untuk menutup pertemuan hari itu. Dengan perasaan campur aduk, kami berpamitan kepada adik-adik, mengingatkan bahwa hari itu merupakan hari terakhir kami mendampingi mereka. Kami juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses pembelajaran masih banyak kekurangan atau belum sepenuhnya memahami karakter masing-masing dari mereka.
Respons mereka di luar dugaan.
“Yah, Kak, kok cuma sebentar…”
“Jadi kakak nggak ke sini lagi ya?”
“Jangan lupain kita ya, Kak…”
“Kenapa sih kak nggak terus belajar sama kita? Kakak-kakaknya asik, tau…” Ucapan-ucapan itu membuat suasana menjadi haru.
Tiba-tiba beberapa anak meminta izin pergi ke mushola dengan alasan ingin mengambil mukenah. Kami mengizinkan mereka dengan pesan agar berhati-hati dan tidak berlari. Beberapa menit kemudian, mereka kembali. Namun bukan mukenah yang mereka bawa. Tangan mereka tampak menyembunyikan sesuatu di balik baju, sambil saling memberi isyarat satu sama lain. Kami mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang mereka siapkan. Mereka berdiri di hadapan kami sambil mengulurkan beberapa bingkisan kecil.
“Kak, ini buat kakak…”
“Kita ada hadiah buat kakak.”
“Jangan dibuka di sini ya, bukanya di rumah aja.”
“Suratnya nanti dibaca ya, Kak…”
Kami terdiam sejenak, tidak menyangka perhatian kecil itu. Dengan perasaan haru, kami mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak perlu memberikan apa pun. Melihat mereka mau belajar dan hadir dengan semangat saja sudah menjadi kebahagiaan bagi kami. Namun mereka menjawab dengan tulus bahwa itu adalah hadiah perpisahan dari mereka.

Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, kami kembali berpamitan dan berpesan agar mereka tetap menjadi anak yang baik, semangat belajar, dan terus melanjutkan sekolah hingga lulus. Mereka menjawab serempak, “Iya, Kak.” Di wajah mereka terpancar ketulusan dan rasa terima kasih yang begitu murni, meskipun kebersamaan kami tidak berlangsung lama. Saat itu kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan mungkin terasa sederhana bagi kami, tetapi bisa menjadi sesuatu yang bermakna bagi mereka.
Kami membuka bingkisan dari anak-anak setelah sampai di kos. Ternyata didalamnya ada banyak makanan ringan dan juga selembar kertas kecil yang berisi tulisan khas anak-anak berjudul “Cerita Perpisahan”. Ceritanya singkat namun cukup berkesan bagi kami. Membaca tulisan tersebut membuat senyum hangat muncul di wajah kami. Kami Bahagia dan bangga pada mereka. Penasaran apa yang mereka tulis? Lengkap kami tuliskan dibawah yaa..
CERITA PERPISAHAN
Makasih ya kak sudah mengajari kami,
Dan kami semua berterimakasih atas belajarnya,
Dan terimakasih soalnya yang tentang materi tsunami , banjir, apa itu tsunami.
Aku minta membuat kipas angin itu karena kasihan teman-temanku dikelas pada gerah semuanya.
Dan kak sinta membuatku senang karena bersabar,ceria, manis,lemah lembut, dan terimakasih juga yang lain.
Terimakasih
Hal ini membuat kami terharu dan merasa dihargai oleh adik-adik Pondok Boro. Mungkin menurut orang lain itu tidak seberapa, tetapi kami tahu mereka menulisnya dari hati yang tulus. Itu saja sudah cukup membuat kami sadar bahwa penghargaan sejati tak diukur dari bentuk atau nilai, tapi dari ketulusan yang terkandung di dalamnya. Anak-anak yang selama ini dianggap lingkungan sekitar sulit diatur, dicap nakal, tidak mau mendengarkan orang lain, tidak bisa dinasehati, suka memutus ucapan orang lain, dan citra buruk lainnya yang melekat pada mereka, ternyata juga bisa meihat kehadiran seseorang dengan penuh kasih. Mereka pada dasarnya hanya anak-anak yang dipaksa mandiri sejak dini dengan mengamen, menjual koran bahkan mengemis. Namun, secara tidak langsung, adik- adik Pondok Boro dan Kota Lama yang menjadi dampingan Rumpin Bangjo, yang setiap harinya hidup dijalanan justru mengajarkan arti ketulusan, kasih sayang, dan rasa terima kasih tanpa pamrih. Dari mereka, kami juga belajar arti penghargaan dalam bentuk paling sederhana, sebuah senyum tulus, ucapan terima kasih yang tulus, atau sebungkus kecil hadiah yang diselipkan diam-diam di balik baju lusuh. Mereka juga mengajarkan kami untuk tidak menghakimi seseorang dari luarnya saja, karena sering kali di balik sikap keras, tersimpan jiwa yang lembut dan hangat.
Hari-hari bersama mereka bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, namun hal ini mengajarkan kami bagaimana artinya bersyukur, berbagi, dan tetap tersenyum meski keadaan tidak selalu berpihak pada diri kita. Momen ini adalah momen yang paling sulit untuk kami lupakan saat perpisahan dengan anak-anak di pondok Boro. Anak-anak yang sebelumnya terlihat sulit diatur, yang kadang membuat kami harus ekstra sabar ketika kegiatan berlangsung, justru menjadi pihak yang paling membuat hati kami tersentuh.
Kami memang selesai magang di Rumah Pintar Bangjo PKBI Jawa Tengah, namun, kami tidak hanya pulang membawa laporan dan tanda tangan pembimbing, tapi juga membawa sebuah perjalanan hidup. Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa nilai sejati dari bimbingan dan konseling bukan hanya teori, tetapi kehadiran yang tulus, empati tanpa syarat, dan tekad untuk terus menebar kebaikan meski dalam ruang yang sederhana. Dunia di balik Rumpin Bangjo telah membuka mata kami, bahwa di setiap tempat, sekecil apa pun itu pasti selalu ada cerita, perjuangan, dan kasih yang menunggu untuk ditemukan. Bersama anak-anak marginal, kami seperti diajak melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Mereka mengajarkan arti ketulusan, kesederhanaan, serta rasa syukur yang sering kali terlupakan. Tawa mereka, semangat mereka, bahkan tingkah laku yang terkadang membuat situasi menjadi riuh, justru menjadi warna yang membuat hari-hari magang terasa hidup dan penuh makna.
Dari seluruh perjalanan ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa mendampingi anak-anak bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang hadir, mendengarkan, dan menghargai mereka sebagai pribadi. Kesabaran, empati, dan keikhlasan adalah kunci yang harus selalu dijaga. Jangan pernah meremehkan dampak dari perhatian kecil, karena bagi mereka itu bisa menjadi sebuah kenangan yang besar. Harapan kami, semoga apa yang telah dilakukan dapat menjadi pijakan awal bagi anak-anak untuk terus berani bermimpi dan percaya pada diri mereka sendiri. Kami juga berharap lembaga ini terus menjadi ruang aman bagi mereka untuk belajar, tumbuh, dan menemukan masa depan yang lebih baik. Bagi kami, pengalaman magang ini akan selalu menjadi pengingat bahwa proses belajar terbaik sering kali datang dari mereka yang kami dampingi.
TERIMAKASIH
@Tim Magang UIN Sunan Kudus 2026
Periode 10 Januari- 10 Februari 2026