Tag archives for:

KTD

Pojok KesproUncategorized

Kehamilan Tidak Dikehendaki pada Remaja, Lantas Bagaimana?

Posted on September 1, 2015 at 3:17 pm by / 0

Barangkali masih ingat peristiwa beberapa bulan yang lalu (29/4), mahasiswi (20 th) di Jogja ditemukan meninggal di kamar kost bersama bayi yang masih berlumur darah setelah melahirkan tanpa pendampingan.  Sebulan sebelumnya (27/3) peristiwa serupa juga terjadi di Kendal, perempuan (25 th) ditemukan meninggal dengan bayi yang masih di selangkangan. Kedua perempuan tersebut diketahui ketika sudah mulai membusuk. Sungguh merupakan keprihatinan yang mendalam.

Mengapa hal demikian dapat terjadi? Bisa jadi keduanya adalah perempuan tidak menikah, barangkali takut untuk menyampaikan kondisinya kepada keluarganya, atau sudah menyampaikan tetapi mendapat penolakan. Pasangan yang menghamili tidak bertanggungjawab, malu mendapat stigma, tidak punya dana untuk berobat dan berbagai kondisi lainnya yang mungkin terjadi. Bila ada kepedulian dari lingkungannya, barangkali ceritanya akan menjadi berbeda.

Kehamilan Tidak Dikehendaki (KTD)

Kehamilan tidak dikehendaki (KTD) memang dapat menimpa semua perempuan, termasuk mereka yang masih remaja dan belum menikah. Tidak ada angka yang pasti yang mencatat seberapa besar KTD di kalangan remaja. Hanya saja sejak tahun 2010-2014, setiap tahun Youth Center PILAR PKBI Jawa Tengah mencatat antara 65-85 kasus yang berkonsultasi dengan keluhan KTD. Sebagian besar kasus yang datang adalah siswa SLTA dengan usia antara 15-18 tahun.

Banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya KTD dikalangan remaja. Secara personal remaja memang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Kadangkala pertumbuhan fisik lebih cepat dibanding dengan kematangan psikologi maupun sosial. Dalam situasi ini remaja sedang berusaha mencari jati diri. Rasa ingin tahu yang besar, menjadikan remaja sering melakukan coba-coba. Kadang remaja perempuan terjebak oleh berbagai rayuan bahwa hubungan seks adalah pembuktian cinta. Ini kerap terjadi terutama pada remaja yang usia pacarnya lebih dewasa. Oleh karenanya remaja perlu dibekali dengan kemampuan untuk berkata “Tidak” untuk hal-hal yang berisiko sehingga mampu melindungi dirinya.

Pengetahuan yang minim tentang kesehatan reproduksi, juga menjadikan remaja meyakini berbagai mitos yang keliru, misalnya perempuan tidak akan hamil bila hanya sekali melakukan hubungan seks, bahwa makan nanas atau minuman bersoda dapat mencegah kehamilan dan lain sebagainya.

Faktor sosial, khususnya teman sepergaulan dapat pula mempengaruhi permisifitas seseorang, yaitu pandangan mengenai batasan aktivitas apa yang diperbolehkan atau tidak boleh dilakukan dalam berpacaran. Seseorang yang mempunyai anggota keluarga atau teman dekat yang pernah melakukan hubungan seks pranikah atau mengalami KTD akan mempunyai kecenderungan lebih permisif.

Di sisi lain baik orang tua maupun guru masih banyak yang merasa tabu dan canggung untuk membincangkan kesehatan reproduksi dan seksualitas pada anaknya. Banyak sekolah yang belum menerapkan pendidikan kesehatan reproduksi bagi siswa didiknya. Hal ini menjadikan remaja mencari informasi sendiri dari berbagai sumber yang kadang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kehamilan RemajaBukanlah akhir segalanya

KTD remaja memang memprihatinkan, dan kita pun harus berupaya semaksimal mungkin untuk mencegahnya. Namun ketika kehamilan sudah terjadi, itu pun bukan akhir dari segalanya. Banyak cerita remaja yang akhirnya dapat bangkit dari kegagalannya dan memulai hidup baru yang lebih baik. Tentunya peran orang-orang terdekatlah yang menjadikan korban KTD menjadi lebih kuat.

Sebut saja salah satu kasus yang menimpa Putri (bukan nama sebenarnya) remaja usia 13 tahun, masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Remaja cantik, lincah dan ramah itu termasuk siswa berprestasi di sekolahnya. Suatu ketika, di hari pertama lebaran, dengan sangat ketakutan dan penuh rasa bersalah dia meminta maaf kepada orang tuanya dan mengaku bahwa dirinya hamil. Bagai disambar petir, kedua orang tuanya yang kebetulan dosen di perguruan tinggi terkenal sangat syok mendengar pengakuan putri sulungnya. Salah apa yang telah diperbuat sehingga anak gadisnya mengalami hal tersebut? Tanyanya sebagai ungkapan denial. Campur aduk antara marah, kasihan dan merasa bersalah sulit untuk digambarkan.

Ditengah keterpurukan itu si ibu memeluk sang putri, marah memang tetapi rasa kasihnya melebihi kemarahannya, dia berusaha menerima segala situasi. Bagaimanapun permasalahan anak adalah permasalahan keluarganya. Kesalahan anak juga bagian dari kesalahannya. Dengan proses yang berat mereka berusaha menerima dan mencari solusi.

Hasil pemeriksaan medis ternyata usia kehamilan Putri sudah 6 bulan dan sehat. Tidak dapat dibayangkan, betapa di usianya yang belia dia sudah memendam persoalan dan mengalami pergulatan batin sekian lama, sendiri. Entah apa saja yang sudah dilakukan selama enam bulan terakhir yang membuatnya kuat untuk bertahan.

Penerimaan keluarga, itulah yang menyelamatkan anak itu. Atas saran seorang konselor,  akhirnya Putri dikirim ke sebuah shelter, tempat penampungan remaja yang mengalami KTD. Disitu dia bersembunyi selama kehamilan hingga melahirkan. Usia yang  masih belia, tidak memungkinkan dia melahirkan normal, akhirnya operasi caecar dia jalani. Ada beberapa pilihan setelah bayinya lahir, seperti diadopsi, bayi dititipkan sementara sampai usia tertentu dimana ibunya sudah sanggup merawat, atau bayi dibawa pulang. Dalam kasus ini, akirnya bayi diadopsi oleh ibu Putri, dan statusnya berubah menjadi adiknya.

Putri pun akhirnya diikutkan home schooling dan mengikuti ujian kejar paket, hingga mendapat ijazah SMP. Disitulah kehidupan baru dimulai, Putri akhirnya dapat melanjutkan ke SLTA dan kuliah serta bangkit dari kegagalan. Lantas dimana laki-laki yang menghamili? Keluarga Putri tidak mengambil pusing terhadap laki-laki yang tidak bertanggungjawab tersebut, baginya yang lebih penting adalah anak kesayangannya tetap terselamatkan.

Cegah Aborsi Tidak Aman

Yang perlu diperhatikan pula, bila perempuan mengalami KTD adalah perlunya pendampingan sehingga dia tidak mengakses layanan aborsi tidak aman (unsafe abortion). Berdasarkan pengakuan beberapa remaja yang mengalami KTD, sebelum datang ke klinik ada yang sudah membeli obat secara online yang tidak jelas sumbernya, pun isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Ada pula yang minum jamu tertentu yang diyakini dapat menggugurkan kandungan.  Hal ini tentu berisiko dan dapat berdampak pada kematian.

Berbagai mitos juga muncul di masyarakat tentang cara-cara pengguguran kandungan misalnya minum minuman bersoda, loncat-loncat, makan makanan tertentu, bahkan ada pula remaja yang mengaku diajak melakukan hubungan seks berulang oleh pacarnya dengan harapan agar janinnya mengalami keguguran. Hal ini tentu tidak benar dan tidak diajurkan.

Sementara di satu sisi, aturan yang berlaku di Indonesia tidak memungkinkan adanya layanan aborsi aman, kecuali untuk korban perkosaan atau indikasi medis. Inilah yang juga turut menyuburkan adanya praktik aborsi tidak aman.

Lantas harus bagaimana bila terjadi KTD? Youth Center Pilar PKBI Jawa Tengah yang berlokasi di Jl. Jembawan no 8 Semarang menyediakan layanan konseling kehamilan tidak dikehendaki. Beberapa konselor sebaya siap untuk menjadi teman curhat, dan siap membantu bila diperlukan. Tentunya semua keputusan ada di tangan klien.**

** Elisabet S.A Widyastuti, MKes

Direktur Eksekutif Daerah PKBI Jawa Tengah

Kegiatan

Tingginya Kehamilan Remaja Tuntut PKBI Jateng Susun Program Kerja 2015-2018

Posted on April 23, 2015 at 12:12 pm by / 0

Krapyak (7/2). Keprihatinan atas maraknya kehamilan remaja yang terjadi, berdasarkan data yang dimiliki oleh Pusat Informasi dan Layanan Remaja (PILAR) PKBI Jawa Tengah tahun 2013 sebanyak 64 kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) pada remaja dan 26 kasus berasal dari Semarang. Dari 268 kasus remaja yang mengakses layanan konseling, (KTD) menduduki peringkat pertama, diikuti konflik dengan pacar sebanyak 49 kasus dan 25 taksir-menaksir, 20 kasus putus dengan pacar. Di sisi lain jumlah remaja usia 10-24 tahun di Jawa Tengah berdasarkan sensus 2010 mencapai 27%; Dan mereka sangat rendah aksesnya terhadap kesehatan seksual dan reproduksi. Untuk itu guna mengurangi penularan IMS, HIV-AIDS serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki, maka program ini akan mendapatkan prioritas. Sementara data Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tertinggi yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI th. 2013) dan karena jumlah abortus yang tidak tercatat dengan baik, maka ada perhitungan yang memperkirakan abortus menyumbang kematian lebih dari 30% AKI, hal ini disebabkan abortus masih dianggap sebagai tindakan kriminal. PKBI Jawa Tengah dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan merealisasikan visi dan misinya selama dua hari (6-7/2) menyelenggarakan workshop.

Workshop Pengurus Daerah

Bertempat di Gedung PKBI Jateng jalan Jembawan no. 8 Semarang, rapat dihadiri oleh Dewan Pembina, Pengurus Daerah (PD) masa bhakti 2014-2018 dan Jajaran Eksekutif termasuk Koordinator program. Workshop tersebut membahas pelaksanaan program dan melakukan evaluasi empat bidang kerja meliputi; bidang organisasi, bidang program, bidang keuangan dan bidang pengembangan sumber daya. Hasil evaluasi tersebut menjadi landasan pelaksanaan program selanjutnya dimana PKBI berusaha meningkatkan kualitas pelayanan yang bermutu dan humanis. Tidak kalah pentingnya di Bidang Organisasi, PKBI telah memiliki 23 cabang di kota dan kabupaten se Jateng, dari ke 23 cabang tersebut 7 masuk dalam kategori A, 12 B dan 4 C. Ketentuan kategori tersebut berdasarkan tingkat keaktifan dan jumlah program yang diaksanaan. Kedepan diharapkan seluruh cabang memenuhi standard organisasi yang mengacu pada 10 prinsip yaitu: Terbuka dan demokrasi, kepengurusan yang baik, strategis dan progresif, transparan dan akuntabel, sehat secara finansial serta berkomitmen terhadap kualitas layanan. Untuk mewujudkan layanan bermutu, PKBI juga telah melakukan audensi dengan Gubernur Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu, yang dipinpin oleh Ketua PD dr. Widoyono, MPH, yang hasilnya Pak Ganjar dengan tegas menanggapi persoalan Jawa Tengah yang dilaporkan PKBI menjadi tantangan bersama. Beberapa hal yang bersentuhan dengan KB, Pencegahan HIV dan persoalan remaja. Beliau melihatnya tidak hanya secara politis, namun diperlukan tindakan yang holistik. Menindaklanjuti tawaran tersebut, PKBI Jateng dalam waktu dekat akan melakukan pengembangan program di Kabupaten Brebes. Sementara itu untuk menjawab kebutuhan masyarakat, Klinik Warga Utama PKBI Jawa Tengah akan menambahkan layanan IMS, VCT, eksterpasi polip servik, Insisi kista bartholini dan repair perineum. Selain itu PKBI akan memberikan layanan mobile yang diharapkan dapat mendekatkan layanan kepada masyarakat. Sementara itu Direktur Eksekutif PKBI Jateng , Elisabet S.A. Widyastuti menyampaikan bahwa momen rapat kerja ini sangat penting karena hasilnya mendasari kinerja PKBI kedepan, selain itu kemampuan finansial dan sumber daya pendukung juga peran pihak donor akan membantu mewujudkan realisasi program dimaksud. Keberhasilan PKBI Jateng mendapat akreditasi A, awal tahun 2014 memicu semangat untuk mempersiapkan pembinaan dan akreditasi cabang lebih lanjut. (antonius juang saksono)

close
Hubungi kami

Kami tidak aktif sekarang. Tapi Anda dapat mengirim email kepada kami dan segara mungkin untuk dibalas.

Questions, issues or concerns? I'd love to help you!

Tekan enter untuk mengobrol