BELAJAR DARI MANTRIA HUTASOIT: PEREMPUAN PELOPOR DAN ORGANISATOR

            Pada tahun 1918 di Solo, Jawa Tengah, organisasi Jong Java sedang membuka pendaftaraan anggota dari pelajar-pelajar sekolah menengah pertama ke atas. Diantara banyaknya pendaftar, Mantria Hutasoit adalah salah seorang remaja perempuan yang sedang memiliki semangat muda dan haus belajar berorganisasi. Dari organisasi inilah Mantria menumbuhkan kecintaan pada dunia organisasi dan pengabdian, kerelawanan serta nasionalisme.            

            Lahir di Bandung pada 28 Agustus 1912, ayah Mantria, R.Kanduruan Djajawikarta bekerja sebagai pejabat Pamongpraja di Bandung. Ia adalah anak ke-7 dari 11 bersaudara. Semasa kecilnya, orangtuanya mengajarkannya hidup disiplin dan dengan aturan kekeluargaan yang ketat. Ibu Mantria mengingat, “Misalnya adik harus memanggil kakaknya dengan sebutan ceuceu dan sebaliknya kakak memanggil adik-adiknya dengan sebutan ayi atau nden (hal.150).

Foto Ibu Mantria Hutasoit
Sumber foto: Ny.Lasmidjah Hardi, Sumbangsihku bagi Pertiwi (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran) Buku I, (Jakarta: Yayasan Wanita Pejoang), 1981, h.148

            Mantria muda melewati masa remaja dengan menempuh pendidikan di M.K.S (Meisjes Kweekschool) Salatiga. Tetapi sebenarnya Mantria muda sangat ingin masuk sekolah Kedokteran di Geneeskundige Hogeschool (GH) setelah menempuh pendidikan selama 7 tahun di Hollandsch Inlandsche School (H.I.S) yang setingkat Sekolah Dasar (SD). “Pada masa itu tidak umum seorang anak perempuan terlalu lama menghabiskan waktunya di sekolah. Mantria sudah melewatkan waktu 7 tahun di HIS. Berapa lama lagi jika ia harus belajar di GH?”, ucap Mantria ketika mengingat dirinya tidak diberi ijin orangtuanya untuk melanjutkan sekolah di GH seperti yang dikutip dalam buku Sumbangsihku bagi Pertiwi Jilid I (1981:150).

            Namun tidak diijinkannya untuk melanjutkan sekolah di GH bukan menjadi penghalang baginya. Pada tahun 1919, Mantria yang berdomisili di Bandung, Jawa Barat mendengar kabar bahwa Belanda membuka sekolah baru khusus untuk perempuan yang bernama M.K.S di Salatiga, Jawa Tengah, hati Mantria senang bukan main mendengar kabar tersebut. Sekolah yang meluluskan siswi untuk menjadi guru kerumahtanggaan ini memancing tekad Mantria untuk bisa melanjutkan pendidikan di sana. Setelah lulus dari HIS, kemudian pada tahun 1930 ketika usianya remaja, atas inisiatifnya sendiri, Mantria mengikuti testing masuk ke sekolah ini dan lulus (hal.150).

            M.K.S menerapkan pendidikan berbasis asrama dan amat disiplin dalam waktu dan kegiatannya. Mantria mengenang, “Jam 5 pagi penghuni asrama sudah harus bangun. Malam hari, jam 10 sudah harus tidur. Sekali seminggu murid-murid diijinkan keluar untuk berbelanja ke took, tetapi harus dalam rombongan dan… dikawal oleh guru dan dibatasi pula waktunya. Pada hari Minggu mereka diberi kesempatan rekreasi, jalan-jalan menghirup udara segar di alam bebas, juga bersama guru-guru” (hal.151). Mantria sangat lancer berbahasa Belanda karena bahasa pengantar di M.K.S adalah Bahasa Belanda serta guru-gurunya yang juga orang Belanda. Lingkungan sekolah dan keluarga yang disiplin menjadikan karakter Mantria amat teguh dan disiplin.

Pertemuan dengan Hutasoit dan Pengabdian Mantria

            Setelah lulus dari M.K.S, Mantria kembali ke Jawa Barat dan mengabdi sebagai guru di Schakel School (sekolah lanjutan bagi lulusan sekolah Ongko Loro, sekolah bagi kaum pribumi yang setingkat di bawah HIS) di Cimahi. Gajinya dari mengajar cukup untuk menghidupi dirinya dan membeli berbagai keperluan dirinya. Pengalamannya menjadi anggota organisasi Jong Java di Solo menjadikannya pribadi yang tak bisa tinggal diam. Ia aktif di perkumpulan kewanitaan bernama PASI, singkatan dari “Pasundan Isteri”. Pada tahun 1933, ketika usianya baru 21 tahun, Mantria sudah menjadi ketua PASI cabang Cimahi.

            Setelah menyelesaikan pengabdiannya sebagai guru di Cimahi, Mantria mendapatkan promosi menjadi Kepala sekolah di M.K.S Pandeglang. Sekolah ini menerapkan kebaya menjadi pakaian sehari-hari. Di Pandeglang inilah Mantria bertemu dengan pemuda asal Tapanuli Bersama Hutasoit. Pada tahun 1935, keduanya menikah di Bandung. Komitmen dan prinsip tujuan mereka pasca menikah adalah ingin memperjuangangkan pendidikan bagi bangsa Indonesia. Setelah menikah, keduanya memutuskan tinggal di Bandung. Pak Hutasoit mengikuti Hoofd Acte Cursus untuk mendapatkan lisensi mengajar di sekolah Belanda. Setelah lulus, suaminya ditugaskan mengajar di Palembang dan Mantria sebagai seorang isteri mendukung langkah suaminya.

            Di Palembang Ibu Mantria sibuk sebagai isteri dan ibu rumah tangga, namun karena kecintaannya pada dunia organisasi, di tempat dia tinggal, Mantria mempelopori lahirnya organisasi perkumpulan wanita yang bernama “Wanita Pardomoan”, anggotanya adalah ibu-ibu dari Tapanuli. Tentang organisasi perempuan, Mantria berpendapat bahwa, “Tugas wanita tidak hanya terbatas pada anak dan rumah tangga. Wanita harus bergerak dalam masyarakat agar luas pula pandangan hidupnya dan menjadi sadar akan dirinya sebagai manusia yang bermasyarakat” (hal.156). Anggota organisasi ini terdiri dari istri guru, pegawai pamong praja, pegadaian dan lainnya. Dan musti diketahui adalah organisasi Wanita Pardomoan adalah organisasi wanita pertama yang lahir di Palembang.

Foto Ibu Mantria Bersama pengurus Pardamoan Isteri di Palembang tahun 1937
Sumber foto: Ny.Lasmidjah Hardi, Sumbangsihku bagi Pertiwi (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran) Buku I, (Jakarta: Yayasan Wanita Pejoang), 1981, h.157

            Sekitar empat tahun hidup di Palembang, selanjutnya pada tahun 1939, Pak Hutasoit dan Ibu Mantria pindah ke Batavia (Jakarta) karena Pak Hutasoit mendapat tugas untuk belajar Bahasa Melayu. Di Batavia, Ibu Mantria tidak bisa tinggal diam. Ia mengikuti kursus fraaie handwerken (membuat kerajinan). Setahun di Batavia, keduanya kemudian harus pindah lagi ke Aceh karena suami Ibu Mantria mendapat tugas menjadi Kepala Sekolah di HIS Tapak Tuan. Hanya satu tahun di Aceh, keduanya pindah lagi ke Meulaboh meski hanya beberapa bulan. Pada tahun 1941, keduanya pindah lagi ke Perbaungan, Sumatera Utara. Di Perbaungan Mantria melihat keprihatinan bahwa keadaan perempuan di Perbaungan amat jauh berbeda dengan di Jawa.

            Maka untuk menjawab keprihatinan itu, Ibu Mantria mempelopori lahirnya organisasi perempuan pertama di Perbaungan yang bernama “Ibu Sepakat”. Di organisasi ini Ibu Mantria mengajarkan tentang cara hidup bermasyarakat serta berbagai hal yang menyengkut persoalan wanita dan sosial. Selain itu, Ibu Mantria juga mengajarkan tentang kerajinan tangan berupa bantal kursi, tutup teko dan lainnya untuk dipamerkan saat pesta kesultanan.

Masa Pendudukan Jepang dan Tumbuhnya Kesadaran Nasional

            Tentara pendudukan Jepang berhasil menduduki Batavia pada tanggal 5 Mei 1942, peristiwa itu menandai kekalahan Belanda tanpa syarat kepada Jepang. Peristiwa itu mengubah kesadaran diri Ibu Mantria Hutasoit. Jepang yang awalnya dianggap sebagai penyelamat masyarakat pribumi nyatanya lebih kejam daripada Belanda. Ketika pasukan Jepang sudah memasuki daerah Perbaungan, perkumpulan Ibu Sepakat terpaksa dibubarkan. Ibu Martia dan anaknya mengungsi ke daerah Siborng-borong, Tapanuli. Melihat penindasan dan penyiksaan penjajah Jepang atas rakyat Indonesia sebagai sesuatu yang di luar batas kemanusiaan menumbuhkan sikap anti-kolonial dan menumbuhkan rasa nasionalismenya. Sikapnya ia buktikan dengan penolakan untuk bergabung dengan organisasi “Fujinkai”, sebuah organisasi perempuan buatan penjajah Jepang. Di masa penjajahan Jepang, Pak Hutasoit mendapat tugas untuk menjadi Kepala Sekolah di Delitua. Maka keluarga Hutasoit pun pindah ke Medan.  

            Penjajahan oleh Jepang, meski singkat, hanya tiga setengah tahun, tetapi di benak Ibu Mantria sangat membekas dan pada akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Indonesia sudah merdeka. Kesadaran Ibu Mantria untuk memajukan negara yang baru merdeka ini amat menggebu-gebu. Berbagai permasalahan sosial, keluarga berencana, pelacuran, poligami, undang-undang pekawinan, hingga kesempatan kerja ada di depan matanya. Melihat persoalan itu semua Ibu Mantria mengatakan, “Siapa lagi yang harus memperjuangkan nasib kaum wanita jika bukan wanita itu sendiri. Dalam berjuang mendampingi kaum pria, wanita harus pula memikirkan nasibnya sendiri. Yaitu untuk tidak lagi menjadi warga negara nomor dua, tetapi agar dapat sejajar dengan pria dalam hak-haknya sebagai manusia dan juga dalam kesempatan bekerja. Sudah tentu tanpa menghilangkan kesadaran akan tugas dan kewajiban sebagai isteri dan ibu” (hal.164).

Membangun Indonesia Melalui Organisasi PKBI

            Pasca kemerdekaan semangat Ibu Mantria makin semangat untuk berorganisasi. Ibu Mantria kemudian masuk menjadi anggota PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) di Medan hingga menjadi ketuanya. Lalu Ibu Mantria juga menjadi anggota DPRD yang pertama kali di Medan. Keadaan sudah merdeka, namun hasrat Belanda untuk menguasai kembali Indonesia masih ada. Clash sering terjadi diantara dua pihak. Dalam pertempuran tersebut, Ibu Mantria membantu mengurus dapur umum di Siantar, mengumpulkan obat-obatan dan membantu kegiatan di Rumah Sakit. Sedangkan Pak Hutasoit menjadi bupati Siantar, residen Sumatera Timur kemudian menjadi kepala Pendidikan dan Kebudayaan (P.D.K) di Bukit Tinggi (hal.166). Pasangan suami isteri ini juga membantu anak-anak anggota Tentara Pelajar, memberikan keterampilan bai ibu-ibu dan menyelundupkan barang-barang bagi pejuang Republik.

            Selama perjalanan hidupnya, Ibu Mantria giat dalam Palang Merah Indonesia (PMI), KOWANI (Kongres Wanita Indonesia), WIC (Women’s International Club), PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), memimpin majalah Keluarga Berencana, anggota sensor film, editor di WIC Journal, anggota DPK (Dewan Pertimbangan Kesehatan) dan kegiatan lain (hal.166). Kegiatannya untuk menyerukan program keluarga berencana Ibu Mantria salurkan melalui organisasi PKBI. Ketika PKBI berdiri di tahun 1957, soal keluarga berencana belum popular. Atas kesadaran para ahli kebidanan dan ahli kandungan yang terkenal seperti Prof.dr.Hanifa Wignjosastro, Prof.dr.Judono, Prof.dr.Sarwono Prawirohardjo, Ny.dr.Hurustiati Subandrio dan tokoh-tokoh wanita lain seperti Ny.Nani Suwondo S.H., Ny.Djuwari, Ny.Syamsurizal, dan juga Ny.M.Hutasoit serta banyak lagi tokoh lainnya, masalah keluarga berencana kemudian menjadi hal yang mengundang perhatian amat serius (hal.166-167).

Foto Ibu Mantria waktu memimpin press tour PKBI tahun 1971
Sumber foto: Ny.Lasmidjah Hardi, Sumbangsihku bagi Pertiwi (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran) Buku I, (Jakarta: Yayasan Wanita Pejoang), 1981, h.162

            Ibu Mantria berkisah, “Ketika itu, suasana politik tidak memungkinkan maslaah keluarga berencana dilaksanakan secara besar-besaran. Kami berpikir tentang kesehatan dan kesejahteraan, terutama dalam kalangan wanita dan anak-anak. KB tidak bertujuan membatasi kelahiran waktu itu, tetapi untuk mengatur jarak kelahiran agar kepada si ibu diberikan cukup waktu untuk mengasuh anak dan menjaga kesehatan. Bagaimana dapat sejahtera jika satu keluarga besar hidup dalam rumah sempit dan ibu serta anak tidak sehat. Bayangkan keadaan mereka yang ekonominya lemah dan si ibu atau isteri melahirkan setahun sekali. Sebenarnya kita sendiri bingung jika berhadapan hal demikian tetapi takt ahu bagaimana caranya mencegah kehamilan untuk menjarangkan kelahiran. PKBI memberikan tuntunan itu, menyediakan fasilitasnya dan juga memberikan penerangan untuk menanamkan apa arti KB itu!” (hal.167).

            Program KB di masa itu bukanlah hal yang mudah disosialisasikan kepada masyarakat. Para aktivis program ini, termasuk Ibu Mantria salah satunya berhadapan dengan adat, agama, tahayul dan anggapan umum bahwa “banyak anak banyak rejeki”. Selain itu dalam usahanya memperjuangkan hak-hak wanita hambatannya datang juga dari kaum wanita karena belum menyadari pentingnya emansipasi. Ibu Mantria berpesan, “Maka tergantung pada kita sendiri bagaimana memperjuangkan apa yang kita yakini kebenarannya. Kalau ingin berjuang, jangan setengah-setengah. Berjuanglah secara tuntas. Berani, tak kenal mundur dan yakin serta penuh disiplin” (hal.167-168). Saking sibuknya Pak Hutasoit dan Ibu Mantria dalam berorganisasi, kadang mereka berdua berjumpa di rumah hanya pada malam hari. Ketika Pak Hutasoit berumur 71 tahun, beliau masih membina 10 organisasi setelah pensiun sebagai Deputy Menteri Bapennas.

Di Masa Tua Ibu Mantria, Sebuah Pesan Perjuangan dan Emansipasi

            “… Bagaimanapun kita harus dapat membatasi diri. Emansipasi wanita harus sesuai dengan tata cara kehidupan bangsa kita sendiri. Janganlah wanita salah langkah. Jangan pula dalam banyak segi kita berlebihan, over acting. Kita memiliki kebudayaan dan kepribadian bangsa kita sendiri. Maka dalam beremansipasi, wanita Indonesia harus dapat menyesuaikan diri antara kemajuan dan tatakrama bangsanya. Jika hal ini tak tercapai, maka akan terjadi ketimpangan… Maka memang benar dalam banyak segi kehidupan haruslah ada keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, ucap Ibu Mantria(hal.170).

            Meskipun usianya semakin tua, faktor itu tidak menyurutkan semangat pengabdian bagi Indonesia. Ibu Mantria aktif sebagai Wakil Ketua Yayasan Pencegahan Kebutaan, Ketua Umum Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra (Bank Mata), Dewan Pertimbangan PERWARI, Krtua Tim Penerangan PKBI, Wakil Pimpinan Majalah PKBI. Di usia 69 tahun, Ibu Mantria masih sangat sibuk menghadiri konferensi, seminar, rapat, forum internasional dan lain-lain. Menyikapi banyaknya kemajuan zaman, Ibu Mantria merasa bahwa generasi saat ini sudah memiliki banyak akses dan kemudahan untuk maju. Kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk sejajar dalam segala hal dengan perempuan di negara-negara maju juga amat terbuka. Ibu Mantria berpesan, “Maka sekarang terserah pada kaum wanita sendiri untuk memilih karier yang dikehendakinya. Yang penting adalah ketulusan dan kejujurannya dalam bersikap serta berbuat. Emansipasi bukanlah untuk berbuat berlebihan. Sebaliknya emansipasi kaum wanita adalah untuk menjunjung derajat kaum wanita dan untuk menyadarkan mereka akan hak-haknya serta tanggungjawab serta tugas-tugasnya sebagai isteri dan ibu rumah tangga. Membina keluarga adalah pula suatu perjuangan luhur yang akan abadi sepanjang jaman. Ingat bahwa peranan kaum ibu dalam Pendidikan putra-putrinya sungguh sangat penting. Bukankah ibu pendidik pertama dalam kehidupan generasi muda? Semoga wanita Indonesia selalu sadar akan hak maupun tugas-tugasnya!” (hal.174).

Oleh: Maulana Malik Ibrahim (Relawan Pilar PKBI Daerah Jawa Tengah)

Sebarkan

Tinggalkan Komentar