Kasih Sayang Sebagai Landasan Komunikasi Keluarga

Makna kasih sayang diajarkan oleh semua agama tanpa kecuali, dimana penganut masing-masing agama itu mencoba untuk menerapkannya dengan baik dan benar.

Dalam Islam, kasih dan sayang punya dua dimensi, yaitu hubungan dengan Allah (habIul minAllah ) yang sifatnya vertikal dan hubungan antar sesama hamba Allah (habIum minnanas) yang sifatnya horizontal.

Kasih sayang pada sesama wujudnya dalam berbagai perbuatan, terutama kasih sayang pada orang tua dan anak.

Kasih sayang orang tua khususnya ibu pada anaknya adalah kasih sayang yang tulus dan murni. Pepatah kuno yang mengatakan “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah” memang benar adanya.

Siapa yang tidak sayang pada anaknya sendiri, anak yang dikadung selama 9 (sembilan) bulan adalah sibiran tulang dan buah hati pengarang jantung.

Nyawa menjadi taruhan ibu, tatkalasi jabang bayi lahir di dunua. Tetapi apakah artinya cinta bagi si anak kalau orang tua salah menerapkannya ?. Justru disinilah kunci serta letak tanggung jawab kasih sayang itu.

Jangan sampai terjadi “kecil termanja-manja, besar terbawa-bawa, tua berubah tidak”. Kita harus menyadari bahwa anak bukanlah sekedar buah cinta suami-istri, melainkan amanah Allah yang harus dirawat, dididik, diasuh secara bertanggung jawab sesuai dengan petunjuk-Nya agar menjadi anak-anak saleh.

Namun jangan sampai melupakan kurun waktu, barangkali kata-kata Sayidina Ali dapat dijadikan pegangan: “Ajarkan anak-anakmu karena mereka diciptakan untuk suatu masa yang berlainan dengan masa kamu (waktu kamu masih anak-anak)”.

Dalam bahasa yang sederhana dapat dikatakan bahwa antara generasi yang suatu dengan generasi berikutnya mengandung perbedaan, tetapi dari unsur ketidaksamaan itu dapat dicari titik-titik temu yang melahirkan kesatuan visi atau pandangan yang positif.

Anak wajib dibimbing dan diarahkan, tetapi dia juga berhak menentukan masa depannya sendiri. Mereka bukanlah duplikat kita, melainkan pribadi-pribadi yang mandiri serta bebas berfikir dan bertindak.

Jadi jangan sekali-kali orang tua memaksakan kehendak, bisa fatal akibatnya.

Di era modern yang bebas, sarat dengan keterbukaan dan kesetaraan gender makin banyak ibu yang berkiprah diluar rumah.

Mereka berkarir karena panggilan jiwa maupun “terpaksa” membantu suami mencari nafkah, mengakibatkan pengasuhan anak menjadi berkurang atau malah cendrung mengalami kesulitan membagi waktu (akibat peran gandanya).

Sebagimana disabdakan oleh nabi Muhammad S.A.W (diriwayatkan oleh H.R. Al Hakim), “hak anak tarhadap oarang tuanya adalah :

1)    Memperoleh nama yang baik

2)   Diajarkan adab dan sopan santun

3)   Diajar membaca dan menulis

4)   Diajar berenang dan memanah (mencari nafkah)

5)   Dinikahkan

Hak anak itu identik dengan kewajiban orang tua terhadap anaknya yang bisa dirangkum dalam satu kata “PENDIDIKAN”.

Makna pendidikan sangat penting didalam keluarga sehingga ayah yang baik adalah ayah yang mampu memberikan bekal utama bagi anak-anaknya dikemudian hari yakni pendidikan (Agama, Moral, Tradisi, dan Kearifan Lokal). Untuk itu, komunikasi dalam keluarga memegang peran sentral. Yang menjadi masalah dewasa ini, dengan tingkat kesibukan yang luar biasa tingginya dimana orang tua maupun anak jarang bertatap muka, bagaimana menjalin komunikasi yang akrab ?

Dalam uraian berikut ini akan dicoba untuk mengupasnya melalui aspek keluarga, yang terdiri dari anak-anak berumur dibawah usia 10 tahun dan anak-anak diatas 15 tahun.

Mengapa diambil batasan umur tersebut, tidak lain karena kami menganggap bahwa :

1)    Anak berusia 5 – 10 tahun memerlukan fondasi pendidikan yang metode penyampaiannya sederhana, mudah diserap, dan mudah diterapkan.

2)   Anak remaja, berusia 15 – 24 tahun, biasanya kelompok ini untuk sementara sulit diarahkan atau dibina, karna itu memerlukan kesabaran, pengertian serta keuletan.

  1. a)    Pendekatan Pada Golongan Pra – Remaja

Kapan pendidikan yang bermuatan nilai dan norma luhur mulai diajarkan ?

Bilamana mungkin pada saat yang sangat dini, bahkan ada yang berpendapat dimulai sejak janin tumbuh dalam kandungan.

Artinya seorang ibu selama kehamilannya harus berbudi luhur, dan berprilaku terpuji demikian juga sang calon bapak.

Tujuannya tidak lain agar bayinya kelak dapat menjadi anak yang saleh, sehat jasmani maupun rohaninya.

Kemudian setelah bayi tumbuh menjadi anak-anak pembinaan terus berlanjut bahkan ditingkatkan.

Prof. Dr. William Bolken, seorang sarjana psikhiatri – anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Hawaii, mengatakan bahwa hubungan emosional ibu dengan anaknya merupaka unsur penting bagi perkembangan si anak.

Ketidakpedulian ibu terhadap bayinya, secara psikologis jelas tidak menguntungkan.

Disini nampak bahwa peran seorang ibu sangat menentukan, apalagi tempat dan fungsinya tidak dapat diganti oleh siapapun.

Banyak teori yang diajarkan untuk mendidik anak, tetapi dalam kenyataannya tentu berbeda sehingga memerlukan improvisasi dan variasi tergantung pada lingkungan dimana anak itu berada.

Pendekatan yang dilakukan pada kelompok ini lebih banyak bersifat bimbingan, melindungi (protective) asal jangan berlebihan (over protective) supaya anak dapat mandiri.

  1. b)   Pendekatan Pada Golongan Remaja

Apakah seorang anak tumbuh menjadi seorang pembangkang atau “anak mama” (anak manis yang penurut), sebenarnya banyak tergantung pada sikap orang tua sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa keberhasilan mendidik anak adalah hasil dari sikap tegas yang ditunjukkan oleh orang tua. Sikap tegas dan konsisten kadang-kadang memang sulit dilakukan bahkan orang tua cenderung besikap ambivalen.

Mendiang Dr. Benyamin Spock, dokter spesialis anak terkenal dari Amerika, pernah mengungkapkan adanya dua sebab mengapa orang tua tidak jujur atau memakai standar ganda.

Pertama  : Orang tua tidak yakin akan kebenaran tindakannya, seperti yang sering tampak pada orang tua masa kini (Orang tua peragu)

Kedua      : Orang tua dengan sadar menginginkan agar anaknya berbuat sesuatu yang baik. Tetapi dilain pihak mereka sendiri ingat betapa bencinya mereka, bila dulu disuruh melakukan sesuatu yang sama oleh orang tuanya sendiri.

Dalam situasi yang serba sibuk ini, anggota keluarga mengalami kesulitan untuk menjalani komunikasi. Oleh karena itu, tentunya harus dicari jalan bagaimana komunikasi dapat terbentuk sementara kesibukan atau aktivitas anggota keluarga tidak terganggu.

Salah satu cara yang ditawarkan adalah saat makan bersama (terutama makan malam), dimana seluruh anggota keluarga diusahakan hadir.

Kebiasaan minum teh di sore hari sambil menikmati TV juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi, biarkanlah anak-anak melontarkan komentar-komentar lucu pada saat ini.

Sebab menurut hemat kami, bentuk komunikasi antara orang tua – anak tidak harus dilakukan secara formal dan serius, kecuali untuk hal-hal tertentu yang memerlukan perhatian khusus.

Obrolan santai antara orang tua – anak dapat berlangsung pada saat mereka melakukan kegiatan bareng, misal ; memasak, berkebun, mencuci mobil, membersihkan rumah, dan sebagainya.

Justru yang penting sebenarnya bukan kuantitas hubungan orang tua – anak, malainkan kualitas hubungan (semua komunikasi) yang terjalin secara wajar dan dilandasi saling pengertian.

Walaupun berbagai taktik telah dilakukan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anaknya, tetapi ada kalanya anak bersebrangan atau memusuhi orang tuanya tanpa peduli orang tua bijaksana atau tidak.

Andaikata terjadi “perang dingin” semacam itu, tidak perlu dihindari sebab sangat manusiawi dan bahkan harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

Pada dasarnya anak tidak menyukai oarang tua yang otoriter, pilih kasih, bawel, pemarah dan tidak konsisten pada peraturan yang dibuatnya sendiri (Orang dewasapun juga tidak menyukai inkonsistensi)

Remaja menyukai dan menghormati sikap orang tua yang tegas dan berpendirin teguh tentang apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Mereka tidak akan menentang, apabila orang tua bersikap konsisten, konsekuen, membuka diri dan selalu menunjukan kasih sayang.

Sebarkan

Tinggalkan Komentar