Kekerasan Dalam Pacaran, Mungkinkah?

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan saling membutuhkan satu sama lain. Menurut teori hierarki Maslow, salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki. Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki menjadi kebutuhan sesorang untuk memuaskan batin melalui kasih sayang dari orang lain, seperti pasangan.

Diusia remaja yang disebut-sebut sebagai usia badai dan penuh tantangan, kebutuhan akan rasa cinta ini biasanya dimaknai sebagai keinginan untuk memiliki kekasih. Saat pacaran seharusnya seseorang merasa lebih bahagia, punya keinginan untuk tumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih baik. Akan tetapi tidak semua hubungan pacaran berjalan dengan mulus dan sesuai harapan. Hubungan pacaran yang seharusnya dipenuhi dengan rasa kasih sayang kerap kali diwarnai dengan kekerasan dalam pacaran.

Apa itu kekerasan dalam pacaran (KDP)?

KDP atau dikenal juga dengan Dating violence adalah tindakan atau ancaman untuk melakukan kekerasan, yang dilakukan salah seorang anggota dalam hubungan dating ke anggota lainnya (Sugarman & Hotaling dalam Krahe, 2001). KDP dilakukan untuk memperoleh kontrol, kekuasaan dan kekuatan atas pasangannya, perilaku ini bisa dalam bentuk kekerasan mental, fisik, ekonomi dan seksual.

Jenis-jenis KDP

  1. Kekerasan Mental

Kekerasan Mental adalah sikap verbal dan emosional berupa ancaman, intimidasi, yang dilakukan terhadap pasangannya dengan perkataan maupun mimik wajah. Kekerasan ini paling sering terjadi, dan biasanya tidak disadari baik oleh korban maupun pelakunya. Terdapat tanda kekerasan dalam hubungan pacaran untuk dikenali, misalnya pasangan memeriksa ponsel, email atau media sosial tanpa meminta izin, cemburu ekstrim hingga membuat situasi tidak aman, meremehkan atau mengejek, marah meledak-ledak dan mengisolasi dari keluarga dan teman-teman, posesif, menentukan sepihak pada pasangan tentang apa yang harus dilakukan. Kekerasan ini berimbas pada melemahnya posisi tawar salah satu pihak, perubahan mental, ketidakpercayaan diri, hingga ketakutan dan trauma.

  1. Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik adalah perilaku yang mengakibatkan pacar terluka secara fisik, seperti memukul, menampar, menendang dan sebagainya (Murray, 2007). Wanita juga melakukan kekerasan tipe ini dengan pasangannya akan tetapi konsekuensi fisik yang dihasilkan tidak begitu berbahaya seperti yang dilakukan pria terhadap wanita. Kekerasan fisik biasanya didahului dengan kekerasan secara mental (psikis), dan mudah dikenali karna ada luka fisik yang terlihat atau dirasakan.

  1. Kekerasan Materi

Kekerasan materi adalah bagian lain dari kekerasan mental. Kekerasan materi lebih kepada meminta pasangan untuk mencukupi segala keperluan hidupnya (memanfaatkan pasangan dalam kebutuhan ekonomi), seperti meminta uang dan barang. Mencukupi kebutuhan pasangan bukanlah sesuatu yang wajar saat masih pacaran, terlebih jika membuat salah satu pihak harus mengorbankan kebutuhannya sendiri.

  1. Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual adalah pemaksaan untuk melakukan kegiatan atau kontak seksual sedangkan pasangan mereka tidak menghendakinya (Murray, 2007). Pria lebih sering melakukan tipe kekerasan ini dibandingkan wanita. Termasuk dalam kekerasan ini ialah pemaksaan ciuman, petting, necking, hingga intercourse atau berhubungan seksual. Dampaknya jelas lebih banyak merugikan perempuan misalnya terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD). Namun tak jarang keduanya mendapatkan dampak yang sama yakni Infeksi Menular Seksual (IMS) hingga HIV-AIDS

Mungkinkah saya mengalami KDP?

Mungkin saja! Remaja dapat mengalami pelecehan atau perilaku hubungan yang tidak sehat, terlepas dari jenis kelamin, orientasi seksual, status sosial ekonomi, etnis, agama dan budaya.

Yuk, Stop Kekerasan dalam Pacaran!

Untuk menghindari KDP, juga untuk menyelamatkan diri dari KDP, ada baiknya kamu melakukan hal-hal seperti :

  1. Mengenali pasangan.

Hal ini perlu dilakukan supaya yakin pasangan adalah orang yang “baik” dan tidak punya potensi menjadi pasangan pelaku KDP. Tanyakan hal-hal pada dirimu sendiri, seperti; Apakah pasangan mudah marah dan meledak-ledak? Apakah ia sering mengancam akan melakukan hal yang merugikan dirimu pun ia sendiri saat cemburu? Apakah ia sering mengatakan hal negative tentangmu? Apakah ia bisa menjadi orang yang sangat berbeda sesaat setelah memukul dan memaki lalu meminta maaf agar kamu iba, tapi kemudian mengulang makian dan pukulan? Apakah ia membatasi semua aktivitas sosialmu termasuk memilih siapa saja temanmu? Jika ada jawaban YA pada satu atau lebih pernyataan tersebut, maka ada kemungkinan kamu berada dalam KDP.

  1. Bersikap asertif dengan menyatakan keberatan atau berani berkata ”Tidak” saat pasangan mulai memaksa melakukan sesuatu yang tidak kita suka dan tidak sepantasnya

Mengatakan “tidak” merupakan cara melindungi diri dari perlakuan yang merugikan diri. Ungkap pendapatmu mengenai perilaku yang tidak disukai dari pasangan agar tercipta suasana komunikasi yang baik. Dengan berani bersikap, maka kita juga akan lebih bertanggung jawab serta punya control atas diri sendiri.

  1. Mencari dukungan sosial dari pihak yang dipercaya jika perilaku pasangan mulai membuat kita ketakutan.

Kekerasan secara psikis biasanya lebih sulit diketahui oleh orang lain karena dampaknya tidak mudah terlihat. Untuk itu, jangan tutup komunikasi dengan sahabat. Jika perlu, hubungi ahli seperti konselor untuk menyikapi hal ini.

Ingat selalu, bahwa cinta seharusnya membawa banyak hal positif dalam hidup, jika dengan pacaran kamu menjadi sedih, kehilangan teman-temanmu, disakiti, atau bahkan menjadi tidak percaya diri dan trauma, maka jangan ragu untuk memutuskan hubungan. (Dania/Lina)

**Jika memerlukan konseling, Youth Center Pilar PKBI Jawa Tengah memiliki layanan konseling gratis untuk remaja. Kunjungi sukaremaja.or.id , atau facebook.com/ycsemarang, atau telp kami di 085726901717.

Sebarkan

Tinggalkan Komentar