PKBI Ajarkan Pada OMK Berkata “Tidak” Untuk Hubungan Seks Pranikah

Semarang (25/6),  Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah Elisabet S.A. Widyastuti M.Kes, yang akrab dipanggil Lisa, berkesempatan untuk memberikan materi bertajuk Seksualitas Remaja dan permasalahannya kepada 32 remaja yang tergabung pada Orang Muda Katolik (OMK). Acara yang digagas oleh Tim Kerja OMK Komisi Keluarga Kevikepan Agung Semarang selama 2 hari menyelenggarakan Rekoleksi Outbond di Wisma Nasaret Karangpanas, Semarang. Rebound kali ini bertemakan “Antara Tuhan dan Pergaulan Bebasku”.

Para OMK menerima gambaran utuh tentang bagaimana OMK bersikap menghadapi tantangan zaman dan mengembangkan talenta yang dimiliki, namun demikian di lingkungan pergaulan OMK, sangatlah memungkinkan untuk tergelincir jatuh dalam pergaulan bebas. Untuk mengantisipasi agar OMK dapat menjaga diri dan menjadi motivator bagi teman-temannya, maka Rebound OMK dirasa penting untuk diselenggarakan demi masa depan mereka yang akan menjaga keberlangsungan kehidupan menggereja.

Dalam paparannya Lisa menyampaikan bahwa 28 % penduduk Jawa Tengah adalah Remaja, dengan kelompok usia 10-24 tahun. Lalu persoalannya ada apa dengan remaja? Jawabnya adalah remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, hal ini disebut pubertas.  Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan sosial. Dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa ini perkembangan fisik sering kali tidak seimbang dengan perkembangan psikologis dan sosial. Hal ini memungkinkan remaja melakukan perilaku beresiko termasuk perilaku seksual yang mengakibatkan kehamilan tidak dikehendaki (KTD). Ini adalah akibat Kurang informasi mengenai tubuh, seksualitas, reproduksi dan konsekuensi hubungan seks; Kemampuan berkata “tidak” pada hubungan sex yang tidak dikehendaki, lemah; Perempuan cenderung tidak bisa menolak; Pengaruh tekanan sebaya; Penggunaan alkohol dan narkoba , serta kurangnya kontrol dari orang tua. Untuk itu yang diperlukan oleh remaja saat ini adalah Informasi yang akurat; Informasi yang mendukung perubahan menjadi perilaku sehat; Life skill, kemampuan mengambil keputusan tepat, Counseling and layanan yang ramah remaja.

Materi yang disampaikan oleh Lisa tidaklah jauh dari pengalaman keseharian kehidupan para remaja itu sendiri, sehingga memicu  para OMK bertanya dan memberikan kesaksian terhadap apa yang terjadi pada remaja dilingkungannya. Ketika Lisa menyampaikan pertanyaan, “Apakah ada diantara yang hadir mempunyai teman yang mengalami kehamahilan yang tidak diinginkan?” Sontak ada beberapa peserta yang mengacungkan tangan untuk memberikan informasi tentang pengalamannya. Bagas salah satu peserta menceritakan bahwa teman SD ada yang hamil karena ketidaktahuannya melakukan hubungan sex dengan temannya yang duduk di bangku SMP. Demikian halnya yang disampaikan oleh peserta lainnya, tentang bagaimana pengalaman temannya yang melakukan hubungan sex di kamar mandi sekolah maupun di rumah pacarnya dan berakibat hamil. Diskusi semakin menarik dan menjadi bahan permenungan dan refleksi sehingga mereka menemukan sebuah jawaban untuk berani mengatakan “tidak” untuk berhubungan sex sebelum pernikahan.

Dari pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh dari PKBI Jateng, OMK menjadi tahu bagaimana mengakses informasi yang benar termasuk untuk berbagi cerita dengan Pusat Informasi dan Layanan Remaja (Pilar). Karena  menjadi pendamping bagi temannya setelah mereka masuk dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak mudah untuk menjelaskan menjadi remaja yang sehat, karena dibutuhkan kesabaran, konsentrasi, kompak, kritis, kreatif, dan pantang menyerah untuk rela dan berkorban demi kehidupan yang baik bagi OMK dan remaja pada umumnya.  (antonius juang saksono)

Sebarkan

Tinggalkan Komentar