Youth Expression:Menjadi bagian dari Solusi

“Jadilah remaja yang cerdas, jangan mudah percaya dan takhluk dengan kata-kata sayang” begitulah salah satu pesan yang dibuat oleh salah satu peserta Youth Expression, dalam bentuk komik singkat yang ringan, menghibur namun kreatif. Cara penuturan presentan yang humoris membuat para peserta dibuat terpingkal-pingkal. Selain komik, ada pula pesan lain yang dikemas dalam bentuk update status, puisi, profile picture, vidio, meme dan lainnya. Pesan-pesan kreatif ini dibuat untuk merespon persoalan remaja yang dirasakan oleh peserta berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dialami dilingkungannya seperti kekerasan dalam pacaran, narkoba, kehamilan tidak dikehendaki, broken home, dan lainnya.

Youth Expression, merupakan salah satu ajang untuk mengeksplorasi potensi remaja, khususnya untuk membantu sesamanya dalam mengatasi persoalan kesehatan reproduksi remaja dan seksualitas dengan talenta yang dimiliki. Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 20 Juni 2014 di Bandungan ini dikuti oleh 61 peserta dari beberapa sekolah di Semarang, Jepara dan Grobogan, yang diselenggarakan oleh Youth Center Pilar PKBI Jawa Tengah.

Puput Susanto, Ketua Panitia penyelenggara, saat ditemui di tengah-tengah acara, menyampaikan bahwa kegiatan Youth Expression mengkombinasikan antara pelatihan kepemimpinan dan pelatihan penggalangan dana yang dikemas dengan konsep yang partisipatif dan fun sehingga dapat memunculkan ide-ide kreatif dari peserta. Selain juga dapat mengisi liburan yang produktif untuk remaja.

“Diharapkan, para peserta mempunyai kesadaran kritis dalam memandang persoalan-persoalan remaja, sehingga dapat mendorong mereka untuk turut ambil bagian dalam mengatasi persoalan tersebut. Ya, mendorong remaja untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah” ungkap Puput.

Komunitas Peer Educator

Kegiatan Youth Expression, merupakan salah satu kegiatan yang melibatkan komunitas peer educator (PE) dari lima sekolah di Semarang yaitu SMAN 8, SMAN 14, SMKN 9, SMA Ksatrian 1 dan SMK Ibu Kartini. Komunitas ini dibentuk sejak tahun 2011 seiring dengan pelaksanaan program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS).

Selain kegiatan youth expression, para guru dan siswa di lima sekolah diatas, juga dilibatkan dalam penyusunan modul pendidikan kesehatan reproduksi dan silabus untuk penerapannya di sekolah.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif PKBI Jawa Tengah, menyampaikan bahwa Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas di lima sekilah ini diharapkan dapat menjadi model yang pada akhirnya dapat diterapkan diseluruh SLTA di Kota Semarang, atau bahkan di Jawa Tengah. Untuk itu diperlukan payung hukum dan kemauan dari pemerintah.

Sebarkan

Tinggalkan Komentar